MEDAN, HETANEWS.com - Sebanyak sembilan rumah di Jalan Guru Sinumba Raya, Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia dihancurkan petugas Satpol PP, Kamis (16/9/2021).

Salah satu warga, Safrizal Harahap yang kesehariannya seorang buruh bangunan menangis karena tidak tahu mau pindah ke mana.

"Maunya Pak Wali kota meninjau kami di sini. Kami enggak tahu mau pindah kemana.Untuk ongkos angkut barang pun kami tidak ada. Saya buruh bangunan, enggak ada pekerjaan menetap. Pandemi sekarang susah cari kerja," ujar Safrizal, Kamis (16/9/2021).

Safrizal dan keluarganya sudah sekitar 15 tahun menetap di rumah tersebut. Ia mengaku sudah tiga kali mendapatkan surat peringatan untuk membongkar dan meninggalkan rumah tersebut.

"Kami di sini sudah 15 tahun. Rumah memang enggak ada izin, tapi dulu kami sudah izin secara tidak tertulis dengan kepling yang lama. Kami juga bilang dulu, apabila tanah ini dipakai untuk pembangunan jalan atau drainase kami siap pindah," jelasnya.

Sekitar pukul 10.00 WIB kemarin penertiban sejumlah rumah di Jalan Guru Sinumba Raya secara mendadak dilakukan oleh petugas Satpol PP dan Dinas PU Kota Medan.

Safrizal mengaku baru mendapat kabar bahwa rumah tersebut akan dibongkar sekitar pukul 23.00 WIB dua hari lalu.

Kemudian keesokan paginya, petugas langsung mendatangi lokasi dan hanya memberikan waktu setengah jam untuk warga mengeluarkan barang-barangnya serta membongkar bangunan tersebut.

Menurut informasi yang didapat warga, penertiban bangunan liar tersebut bertujuan untuk pembuatan drainase yang belum tahu kapan akan dibangun.

"Kata Satpol PP, mau dibuat drainase. Enggak ada dibilang kapan mulai pembangunan drainase, cuma dibilang akan dibangun. Ya mudah-mudahan memang dipakai untuk pembangunan, tapi kalau untuk pribadi ini alangkah sedihnya kita," katanya.

Ada sekitar tujuh kepala keluarga yang rumahnya digusur. Sebagian warga sudah ada yang pindah ke tempat keluarganya. Sebagian lagi sekitar sepuluh orang masih terlantar di lokasi tersebut.

Pantauan Tribun-Medan, sebagian warga yang masih terlantar mencoba untuk membuat bangunan sementara dengan kondisi seadanya untuk tempat tinggal dan menyimpan barang-barang mereka sementara.

Safrizal dan keluarganya saat ini pindah ke rumah pondok yang berada tepat di depan lokasi rumah yang ditertibkan. Kondisi rumah itu sangat memprihatinkan.

Tanah tersebut merupakan milik orang lain yang berbaik hati meminjamkannya untuk sementara kepada warga setempat yang membutuhkan.

Lebih lanjut, Safrizal menambahkan, untungnya saat pembongkaran rumah tersebut banyak warga setempat yang merasa prihatin dan ikut membantu mereka mengelurkan barang-barangnya.

Sumber: tribunnews.com