KARAWANG, HETANEWS.com - Presiden Joko "Jokowi" Widodo telah memulai pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara, menandai tonggak penting dalam upaya negara untuk memantapkan dirinya sebagai pemasok baterai global utama. 

HKML Indonesia, dikendalikan oleh konsorsium perusahaan Korea Selatan dan Industri Baterai Indonesia, anak perusahaan dari penambang yang dikendalikan negara, akan membangun dan mengoperasikan pabrik senilai $ 1,1 miliar yang berlokasi di Karawang New Industrial City, Jawa Barat.

“Kami bersyukur hari ini bisa menyaksikan peletakan batu pertama pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia, dan pertama di Asia Tenggara, dengan nilai investasi US$1,1 miliar,” kata Presiden Jokowi, Rabu.

Pembangunan pabrik tersebut merupakan tujuan pemerintah untuk membangun industri hilir untuk sumber daya pertambangan negara, terutama nikel, kata Jokowi. 

Era ekspor komoditas mentah sudah berakhir, dan Indonesia harus berjuang untuk beralih dari struktur ekonomi berbasis komoditas ke industri hilir yang kuat berdasarkan pengembangan inovasi teknologi, katanya. 

“Strategi bisnis Indonesia saat ini adalah melepaskan ketergantungan kita pada negara pengekspor bahan baku dan produk impornya dengan mempercepat revitalisasi industri pengolahan. Ini akan memberikan nilai lebih bagi industri kita,” kata Jokowi. 

Pengembangan tahap pertama di pabrik Karawang melihat kapasitas produksi baterai hingga 10 gigawatt hour (GWh) per tahun.

“Satu pabrik akan beroperasi pada 2022 untuk menghasilkan baterai 10 gigawatt hour,” kata Toto Nugroho, Presiden Direktur Industri Baterai Indonesia, kepada hadirin di Investor Daily Summit 2021 Juli lalu. 

Pabrik akan memasok kendaraan listrik dari Hyundai, produsen mobil Korea Selatan. Hyundai juga merupakan perusahaan pertama yang mengumumkan rencana produksi kendaraan listrik di Indonesia, dengan pabrik senilai $1,5 miliar yang didirikan di Cikarang. 

Peletakan batu pertama dilakukan setelah Head of Agreements pada proyek investasi baterai antara Industri Battery Indonesia dan konsorsium yang dipimpin LG pada April 2021. LG Energy Solution, LG Chem, LG International, Posco, dan Huayou Holding semuanya terlibat dalam konsorsium tersebut. 

Perusahaan memiliki visi untuk membangun rantai pasokan terintegrasi untuk produksi baterai lithium-ion di Indonesia, mulai dari pertambangan bahan baku, peleburan, pemurnian, prekursor, dan industri katoda. 

Bahlil Lahadahlia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengatakan sebelumnya bahwa total investasi untuk proyek rantai pasokan terintegrasi bisa mencapai $ 9,8 miliar.

Cikal bakal kerjasama Industri Battery Indonesia dengan LG Consortium dimulai pada 2019 saat Presiden Jokowi dan Presiden Korea Selatan Moon Jae In bertemu di Busan, Korea Selatan.

Setelah melalui serangkaian proses penilaian, negosiasi, dan studi pengabdian, kedua pihak akhirnya sepakat untuk menandatangani nota kesepahaman pada 18 Desember 2020, di Seoul, Korea Selatan.  

Industry Battery Indonesia is a consortium of four prominent state-run mining and energy companies — Indonesia Asahan Aluminum (MIND ID), gold and nickel miner Aneka Tambang (Antam), energy company Pertamina, and utility firm Perusahaan Listrik Negara (PLN). 

Sumber: jakartaglobe.id