HETANEWS.com - Meninggalnya siswa kelas XI SMK swasta di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat setelah menjalani vaksinasi, menjadi sorotan publik. Terkait kasus itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat masih menunggu hasil investigasi Komda KIPI, untuk penanganan lebih lanjut.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul memastikan peristiwa tersebut menjadi perhatian, agar tak terulang di daerah-daerah lain. 

"Saya sudah temui keluarganya," ujar Uu saat dimintai keterangannya, Rabu 8 September 2021.

Pihaknya mengimbau keikutsertaan peserta dalam vaksinasi, harus disertai dengan kejujuran. Terutama saat penerima vaksin dilakukan skrining oleh vaksinator, apakah mempunyai penyakit bawaan.

Diberitakan sebelumnya, Cahyono, siswa kelas XI SMK swasta di Kabupaten Ciamis, meninggal satu hari pasca divaksinasi COVID-19 di SMAN 1 Sindangkasih pada Rabu 1 September 2021. 

Pada Rabu 1 September 2021, Cahyono mengikuti vaksinasi di SMAN 1 Sindangkasih. Dia datang ke lokasi pagi hari, namun baru mendapat giliran disuntik vaksinasi siang menjelang sore.

Mengeluh Sakit Setelah Vaksin

Setelah disuntik vaksin, Cahyono pulang ke rumah. Ia mengeluhkan merasa lelah dan lambungnya sakit. Menurut orangtuanya, ia juga sempat meminta makan daging ayam. Setelah itu ia beristirahat. Kejang-kejang dan Meninggal

Orang tua Cahyono melihat anaknya kejang-kejang pada Kamis (2/9/2021) subuh. Lalu mereka menghubungi dokter untuk memeriksakan anaknya. Sayangnya, ketika dokter datang, siswa itu sudah meninggal dunia.

Nono, ayah Cahyono, membenarkan kabar bahwa anaknya meninggal dunia setelah divaksin, dan sebelumnya mengalami keluhan gangguan lambung, lelah dan pusing.

Nekat Vaksin karena Ingin Belajar Tatap Muka

Cahyono menjalani vaksinasi karena ingin mengikuti pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Jika tidak melakukan vaksin, siswa harus belajar secara daring. Dikabarkan bahwa dia mempunyai penyakit bawaan gangguan pada organ lambung.

Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra, meminta masyarakat untuk jujur dengan kondisi tubuh saat akan divaksinasi. Dia mengatakan bahwa siswa itu memiliki riwayat penyakit bawaan. 

Menurutnya, kemungkinan siswa itu tidak menyampaikan saat tahapan skrining. Yana meminta masyarakat yang akan menjalani vaksinasi COVID-19 harus jujur dengan kondisi masing-masing. 

Tak Ada Paksaan untuk Vaksinasi

Mengenai informasi salah satu siswanya meninggal setelah divaksin, Kepala SMK Galuh Rahayu Sindangkasih M Rizal Abdilah, mengatakan bahwa tidak ada paksaan kepada siswanya untuk divaksin. Bahkan dia tidak menganjurkan siswa yang memiliki penyakit bawaan untuk divaksin.

Menurutnya, dalam proses vaksinasi itu sudah sesuai dengan SOP, dari mulai skrining sampai disuntik vaksin. Bahkan ada anak yang menangis karena tidak lolos pemeriksaan skrining.

Sumber: viva.co.id