HETANEWS.com - Angka kematian akibat virus corona di Indonesia diperkirakan 280 ribu hingga 1,1 juta, berdasarkan laporan The Economist. Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman pun memprediksi angkanya lima kali lebih besar dari yang dirilis oleh pemerintah.

Terakhir, pemerintah mencatat bahwa total kematian akibat virus corona 137.156 orang per hari ini (7/9). Jika merujuk pada perkiraan epidemiolog, artinya angkanya hampir 700 ribu.

“Kalau Indonesia, wajar (angka kematian) bisa mencapai lima kali lipat dari data pemerintah,” kata Dicky kepada Katadata.co.id, Selasa (7/9).

Hal itu karena sistem pelaporan, deteksi, dan kriteria pencatatan terkait virus corona di Indonesia tidak sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebagai contoh, data kematian akibat Covid-19 di Indonesia belum menyertakan angka probable atau meninggal dunia dengan gejala terinfeksi virus corona meski hasil tes belum keluar. Padahal, angka kematian probable masuk dalam definisi kematian akibat Covid-19 menurut WHO.

"Belum lagi kematian yang tidak terdeteksi,” kujar Dicky.

Ia pun memperkirakan bahwa negara yang sistem pencatatannya bagus saja, angka kematian akibat virus corona tidak sesuai kondisi sebenarnya.

“Bisa tiga kali lipat dari data resmi,” katanya.

LaporCovid-19 mencatat, data kematian yang diumumkan oleh pemerintah pusat (pempus) jauh lebih sedikit dibandingkan yang dilaporkan oleh pemda.

Data dari 510 kabupaten/kota yang dikumpulkan oleh tim LaporCovid19 menunjukkan, ada 124.790 orang meninggal dengan status positif Covid-19 per hari ini (7/9). Sedangkan pempus mengumumkan 105.598 orang meninggal dunia akibat virus corona pada waktu yang sama.

Itu artinya, ada selisih 19.192 antara data kabupaten/kota dengan pempus. Selisih angka kematian tertinggi terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, yaitu masing-masing 9.662 dan 6.215.

Sebelumnya, The Economist memperkirakan bahwa angka kematian di Indonesia 500% lebih banyak dari yang dirilis oleh pemerintah. Mereka memprediksi, angkanya mencapai 280 ribu hingga 1,1 juta. The Economist juga memprediksi, angka kematian akibat Covid-19 secara global 15,2 juta.

"Kami menemukan, ada 95% kemungkinan bahwa nilai sebenarnya terletak antara 9,4 juta dan 18,2 juta kematian," demikian isi artikel berjudul The Pandemic's True Death Toll, dikutip Senin (6/9). Namun The Economist mengungkap dua kelemahan pengukuran yang mereka lakukan, yakni:

1. Rujukan data resmi pemerintah dianggap akurat

Bila pemerintah mengubah cara mengumpulkan data kematian, ada potensi pengukuran The Economist menjadi kurang tepat

2. Sebagian besar data The Economist berasal dari negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah

Itu karena negara-negara tersebut dianggap mampu menyajikan data yang lebih akurat. Oleh karena itu, pengukuran ini menjadi kurang akurat untuk menggambarkan dinamika pandemi corona di negara-negara miskin dan yang mengalami perang atau bencana alam.

Sumber: katadata.co.id