HETANEWS.com - Partai Gerindra mengutarakan niatnya untuk kembali mengusung Prabowo Subianto menjadi calon presiden pada Pilpres 2024.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani saat menghadiri kegiatan peletakan batu pertama pembangunan kantor DPD Gerindra Bangka Belitung, Sabtu (28/8/2021).

Menurut Muzani, pengusungan kembali Prabowo merupakan upaya untuk memberikan maslahat lebih besar kepada bangsa dan negara.

"Itu sebabnya, kita semua ingin agar Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum Gerindra, Pak Prabowo dalam Pilpres 2024 maju sebagai calon presiden," kata Muzani dalam keterangan tertulis, Minggu (29/8/2021) "Karena kita ingin memberi bakti yang lebih besar dalam jabatan eksekutif pemerintahan bagi kemaslahatan bangsa dan negara, yakni keadilan kemakmuran untuk semua rakyat Indonesia," tambahnya. Lantas, bagaimana peluang Prabowo di 2024?

Peluang Prabowo

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Kuskridho Ambardi mengatakan, Prabowo Subianto sudah memiliki rekognisi nama yang tinggi.

Artinya, hampir semua pemilih di Indonesia telah mengenalnya. Rekognisi itu yang menurutnya akan membantu Prabowo mendapatkan dukungan suara.

Tak hanya itu, Prabowo juga dinilai telah memiliki basis pemilih yang besar, karena sudah ikut menjadi peserta pemilu tiga kali. Hal itu dibuktikan dengan tingginya elektabilitas Prabowo di beberapa lembaga survei terpercaya.

"Oleh karena itu, dia punya kans," kata Dodi, sapaan akrab Kuskridho, kepada Kompas.com, Senin (30/8/2021).

Kompetitor Prabowo

Selanjutnya, selain peluang Prabowo maju di 2024, yang perlu dicermati juga adalah siapa yang akan jadi pasangan dan rivalnya nanti. 

"Faktor yang perlu kita lihat adalah sejauh mana kompetitor Prabowo itu muncul, siapa saja mereka," ungkap Dodi. 

Hal itu juga akan mempengaruhi peta persaingan di antara para kandidat yang akan maju di Pilpres 2021.  Dodi menuturkan, bergabungnya Prabowo ke kabinet Jokowi tidak membawa efek besar kepada pendukungnya.

Meski Prabowo jarang muncul, Dodi menyebut panggung politik selevel menteri sangat penting untuk menjangkau publik secara luas.

Minimnya kaderisasi partai

Terlepas dari itu, Dodi juga menyoroti proses pengkaderan Partai Gerindra, sehingga tidak memiliki tokoh lain yang bisa dicalonkan selain Prabowo. Sebab, Prabowo akan berusia 72 tahun pada 2024 mendatang.

"Di sana itu ada pertanyaan, kaderisasi di Partai Gerindra itu seperti apa ya? sehingga yang didorong tetap prabowo, Apa kader berikutnya belum muncul? Itu pertanyaan juga bisa diajukan ke partai-partai lain," ujarnya.

Minimnya kaderisasi

Dodi menjelaskan, minimnya kaderisasi dalam satu partai politik disebabkan oleh karakter partai yang cenderung berpusat pada person-nya. Khususnya, tokoh tersebut memiliki sumberdaya politik dan ekonomi yang besar.

"Setiap partai itu kan ada tokoh-tokoh besarnya yang bikin partai tetap solid, saya kira fungsi Pak Prabowo di situ," papar Dodi.

"Tapi pada saat yang sama, kaderisasi jadi macet, karena partai menjadi agak sedikit mengalami personalisasi. Itu terjadi di PDIP, Demokrat, dan Gerindra, partai lain juga mungkin memiliki gejala yang sama," paparnya.

Sumber: kompas.com