Jakarta, hetanews.com - Berdasarkan regulasi dari Kementerian Kesehatan, dosis 1 dan 2 vaksin COVID-19 harus menggunakan satu jenis merek yang sama. Namun menurut dokter, ada sejumlah daerah yang memberikan dosis 1 dan 2 vaksin COVID-19 dengan merek berbeda karena terkendala stok. Amankah?

"Kalau berdasarkan surat dari Kementerian Kesehatan berdasarkan keputusan yang saya tahu, tetap direkomendasikan vaksin itu tidak berbeda jenis. Jadi (dosis) 1 Sinovac, kedua Sinovac. Kalau satunya AstraZeneca, keduanya lagi-lagi AstraZeneca. Demikian pula nanti Moderna dan Pfizer," ujar spesialis penyakit dalam dr Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD-KPsi atau yang biasa disapa dr Koko dalam program e-Life, Jumat (20/8/2021).

Namun ia mengaku sempat mendapat laporan dari sejumlah daerah bahwa warga diberikan jenis vaksin COVID-19 berbeda pada suntikan dosis 1 dan 2. Hal tersebut disebabkan keterbatasan stok dan distribusi vaksin COVID-19 yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

"Sekitar Maret atau April tahun ini, saya mulai dihubungi teman-teman dari daerah yang menyampaikan problem di daerah mereka. Pada suntikan pertama, mereka menerima Sinovac. Terus pada waktu untuk penyuntikan kedua kita tahu bahwa dosis vaksin kita seperti dicicil, ada tahapan-tahapan, tidak selancar yang dulu kita perkirakan," bebernya.

"Mungkin baru sekarang-sekarang ini kita bisa gaspol. Tapi sempat ada periode di mana teman-teman di daerah tertentu itu kemudian pada periode pertama dia menerima Sinovac, pada episode keduanya yang mereka terima AstraZeneca," imbuh dr Koko.

Ia belum bisa memastikan apakah hal serupa akan diterapkan pada penggunaan Moderna dan Pfizer, terlebih melihat keterbatasan stok dan ketidakmerataan distribusi vaksin COVID-19 di RI. Ia juga menyebut, hal ini masih banyak dipertanyakan masyarakat di media sosial.

"Meskipun secara regulasi dari Kementerian Kesehatan jelas di imbauannya jelas aturannya bahwa memang seharusnya sebaiknya jenisnya sama, tapi konteks di lapangan itu yang tersedia kemudian berbeda antara dosis 1 dan 2. Maka itu tidak masalah," pungkas dr Koko.

sumber: detik.com