Jakarta, hetanews.com - Indonesia baru saja menerima tambahan vaksin corona berupa 1,5 juta dosis vaksin Comirnaty buatan Pfizer-BioNTech pada Kamis (20/8). Kedatangan vaksin asal Amerika Serikat ini juga merupakan yang kali pertama di Tanah Air.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) vaksin berplatform mRNA tersebut pada 15 Juli 2021.

Berdasarkan data uji klinis yang dilakukan, terdapat sejumlah efek samping yang dilaporkan. Akan tetapi, hal tersebut dinilai masih dapat ditoleransi.

Ketua Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof. Hindra Irawan Satari, menyebutkan bahwa efek samping yang disebabkan dari Pfizer ini tak jauh berbeda dari vaksin-vaksin yang sudah ada sebelumnya.

"Sebetulnya gejala Pfizer itu seperti vaksin Covid lainnya berupa gejala di tempat suntikan. Nyeri, kebengkakan, kemerahan di tempat suntikan. Gejala yang umum lemas, sakit kepala, nyeri otot, menggigil, demam, nyeri sendi, mual, muntah, diare, sakit perut," jelasnya , Jumat (20/8).

Akan tetapi, dalam laporan tersebut menurut Prof. Hindra, ditemukan adanya efek seperti radang otot jantung (miokarditis) dan radang selaput jantung (perikarditis) pada orang yang sudah divaksinasi menggunakan Pfizer, utamanya adalah laki-laki di bawah 30 tahun.

"Nah, ada laporan-laporan kelihatannya tentang radang otot jantung sama radang selaput jantung yang ditemukan pada laki-laki umur 12-29 tahun. Data-data itu disandingkan dengan data-data radang otot jantung dan radang selaput jantung pada keadaan sebelum vaksinasi COVID," tambahnya.

  • Perlu Diwaspadai tapi Tak Harus Takut

Temuan tersebut nyatanya memang perlu diwaspadai, namun bukan berarti masyarakat harus takut. Sebab menurut Prof. Hindra, kejadian tersebut sangatlah rendah. Manfaat dari vaksin COVID-19 ini jauh lebih besar dibanding risikonya.

"Ternyata data-data menunjukkan bahwa angka itu sangat rendah. Jadi risiko itu dikhawatirkan ada, namun manfaat yang diperoleh jauh lebih besar dari risiko yang mungkin terjadi karena itu ITAGI-nya Amerika Juni 2021 masih bilang tetap saja dipakai," jelas Prof. Hindra.

"Karena untuk melindungi terhadap terjadinya penyakit dan kematian dari COVID-19 lebih besar daripada risiko untuk penderita miokardisitis atau radang otot jantung itu," pungkasnya.

Komite Penasihat Global tentang Keamanan Vaksin (GACVS) pada 26 Mei 2021 lalu memang pernah melaporkan adanya temuan miokarditis ringan setelah vaksin mRNA COVID-19 seperti Pfizer dan Moderna. Namun hal tersebut memang sangat jarang terjadi dan tentu, manfaat vaksin dari menghindari kematian dan perawatan jauh lebih besar.

sumber: kumparan.com