HETANEWS.com - Viktor Axelsen menjadi peraih medali emas Olimpiade 2020 untuk cabang olahraga bulu tangkis. Ada kisah menarik dari tunggal putra andalan Denmark ini dengan China.

Pada final tunggal putra, Axelsen berhadapan dengan wakil China, Chen Long. Ia keluar sebagai juara usai mengandaskan Chen dua gim langsung 21–15, 21–12.

Rakyat China berhak kecewa karena Chen kalah. Namun di sisi lain, publik 'Negeri Tirai Bambu' mungkin tak akan dendam-dendam amat pada Axelsen.

Sebab, Axelsen sudah lama berhasil mengambil hati fan bulu tangkis China. Atlet 27 tahun itu punya kumpulan penggemar di sana.

Viktor Axelsen digembleng oleh pelatih asal China. Namanya Zhang Lianying yang berlaku sebagai pelatih teknisnya. Ia mungkin bisa saja meminta percakapan dengan sang pelatih menggunakan Bahasa Inggris agar lebih mudah.

Namun, tidak. Axelsen rela belajar Bahasa Mandarin agar bisa enak berkomunikasi dengan Zhang.

Dalam kisah yang terpapar di South China Morning Post, pada awal Agustus 2021, tak lama setelah meraih medali emas Olimpiade 2020, Axelsen mengirim pesan suara via aplikasi kepada Zhang. Ia mengucapkan terima kasih dalam Bahasa Mandarin.

“Saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih banyak," kurang lebih begitu kata Axelsen, yang memiliki nama China 'An Sai Long', jika diterjemahkan.

Masih dikutip dari South China Morning Post, Zhang Lianying sendiri berasal dari Tianjin di China utara. Viktor Axelsen bukan 'murid' pertamanya, dia sudah melatih Denmark sejak 32 tahun lalu. Kala itu, ia diminta melatih Jon Holst Christensen, yang berkompetisi di Olimpiade Atlanta 1996.

Sejak saat itu, Zhang telah melatih beberapa pemain top Denmark. Uniknya, gara-gara kelamaan di Denmark, Zhang disebut hampir lupa dengan Bahasa Mandarin.

“Viktor memaksa saya berbicara Bahasa Mandarin dan, di antara shuttlecock yang terbang di sekitar lapangan, dia akan meminta terjemahan tepat dari peribahasa rumit atau mengingatkan saya bahwa hari libur China akan datang dan bahwa kami harus merayakannya,” terang Zhang.

Axelsen benar-benar totalitas mempelajari Bahasa Mandarin. Selain karena ingin akrab dengan Zhang, ia menyadari bahwa bulu tangkis adalah olahraga yang begitu berarti bagi rakyat China. Maka dari itu, ia merasa harus mengerti Bahasa Mandarin dan bahkan memakainya dalam sesi wawancara atau konferensi pers.

“Ketika saya menetapkan tujuan, saya ingin menindaklanjuti dan mencoba untuk mencapai sejauh waktu dan bakat saya memungkinkan,” kata Viktor Axelsen.

Axelsen belajar Bahasa Mandarin dengan cara mendengar podcast dan menonton acara TV berbahasa Mandarin. Namun, dia juga memiliki guru bernama Wen Deng. Uniknya, Wen dulu sempat takut saat akan mengajar Axelsen.

“Saya takut dia sombong karena dia terkenal dan dia tidak mau mendengarkan saya,” katanya, yang kemudian menyadari bahwa Axelsen punya antusiasme tinggi pada Bahasa Mandarin.

“Setiap kali saya mengajarinya tata bahasa baru, tidak peduli betapa sulitnya itu, dia selalu memahaminya dengan sempurna. Saya senang mendengarnya menggunakannya dalam wawancara Bahasa Mandarin,” kata Wen.

Maka dari itu, wajar jika Viktor Axelsen menjadi sulit dibenci publik China. Terlebih, ia dikenal sebagai pribadi yang menghormati semua orang.

“Viktor menghormati semua orang, tidak peduli siapa mereka. Saya, pelatihnya, reporter, dan tak terkecuali para penggemarnya,” kata Wen.

Kini, Axelsen telah dikenal publik sebagai pemenang medali emas Olimpiade. Zhang Lianying pun mengeluarkan kata-kata mutiara untuk mendeskripsikan anak asuhnya itu.

"Karakter Sai Long bersinar lebih terang dari emas Olimpiade."

-Zhang Lianying, pelatih Viktor Axelsen alias An Sai Long

sumber: kumparan,com