SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Jumlah perkara narkotika dari tahun ke tahun tetap saja mendominasi di wilayah hukum Simalungun. Tampaknya hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana narkotika tidak membuat mereka jera. 

Bahkan pelaku yang sudah pernah dipidana (residivis) sudah divonis lebih berat lagi dari hukuman sebelumnya, tapi tetap saja narkotika masih marak di wilayah hukum Simalungun.

Sesuai data yang diperoleh hetanews.com dari Kejaksaan Negeri Simalungun, jumlah perkara sejak Januari hingga Juli 2021 menerima 283 berkas (Penuntutan) dari 313 jumlah SPDP yang masuk.

Dari jumlah tersebut sebanyak 105 kasus narkotika (penuntutan) dan 121 berkas narkotika yang dilimpahkan ke pengadilan.

Demikian dikatakan Kajari Simalungun Bobbi Sandri SH MH melalui Kasi Pidum Irvan Maulana SH, Selasa (10/8).

Selain narkotika disusul kasus terkait OHARDA (orang dan harta benda) juga kasus keamanan dan ketertiban umum (kantibbum) seperti asusila, kekerasan terhadap anak, pencurian, penipuan, perjudian dan lain lain.

Beberapa petugas kepolisian yang sering dijadikan sebagai saksi (yang melakukan penangkapan) dalam kasus narkotika sering mengatakan, jika wilayah Simalungun dengan kota Pematangsiantar tidak bisa dipisahkan.

"Kami tangkap pengguna narkotika, setelah diinterogasi mengatakan belinya dari Siantar. Kami langsung buru tapi jarang tertangkap," kata beberapa petugas satres narkoba Polres Simalungun.

Tampaknya, kasus narkotika terus saja meningkat karena hanya pembeli atau pengguna yang ditangkap. Sedangkan bandar atau penjual jarang tertangkap sehingga kasus narkotika masih saja meningkat, kata Fransiskus Silalahi SH saat diminta tanggapannya terkait maraknya kasus narkotika yang setiap tahunnya terus saja mendominasi jumlah perkara di Simalungun.