HETANEWS.com - Indonesia mengakhiri Olimpiade 2020 di peringkat 55 klasemen akhir perolehan medali. Akan tetapi, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, mengatakan bahwa peringkat Indonesia bisa naik andai atlet angkat besi China terbukti memakai doping.

Indonesia menargetkan berada di urutan 40 pada klasemen akhir Olimpiade 2020. Namun, raihan 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu membuat RI harus puas di peringkat 55 yang juga berarti menjadi negara Asia Tenggara terbaik kedua setelah Filipina di urutan 50 (1 emas, 2 perak, 1 perunggu).

Okto menyebut bahwa ada kemungkinan peringkat RI naik jika atlet angkat besi China, Hou Zhihui, terbukti memakai doping. Ia adalah peraih medali emas nomor 49 kg putri, sama seperti Windy Cantika yang meraih perunggu.

“Jika melihat peta kekuatan Asia Tenggara, Indonesia berada di ranking dua setelah Filipina. Tapi, Indonesia memiliki potensi kenaikan posisi medali dari cabang olahraga angkat besi. Perunggu Windy Cantika Aisyah berpotensi naik menjadi perak, apabila peraih medali emas bisa dibuktikan doping,” kata Okto dalam keterangan resminya, Senin (9/8).

Sebelumnya, media-media India seperti New Indian Express, India Today, ANI News, dan Sportskeeda menggembar-gemborkan isu doping lifter China itu. Jika terbukti, Hou Zhihui bakal didiskualifikasi, lalu lifter India, Saikhom Mirabai Chanu, yang sebelumnya meraih perak berhak mendapatkan emas dan Windy berhak atas perak.

Kendati demikian, pada 30 Juli lalu, ANI News menyatakan bahwa ada kesalahan dalam pemberitaan mereka.

"Sebelumnya, kami telah melaporkan Hou Zhihui akan diuji oleh otoritas anti-doping dan jika dia gagal dalam tes, Chanu berpeluang mendapatkan emas. Tetapi, belum ada pengujian dan itu adalah kesalahan yang tidak disengaja saat melaporkan berita," tulis ANI News.

"Dijelaskan bahwa Hou Zhihui tidak menjalani tes anti-doping. Selain itu, tidak ada perkembangan dari prosedur rutin anti-doping yang dilakukan usai kompetisi 49 kg tersebut," lanjut mereka.

Terkait hal itu, kemudian mencoba mengkonfirmasi secara langsung kepada Okto. Ia tetap meyakini bahwa tes doping itu tetap ada, tetapi pihaknya belum bisa mengkonfirmasi kapan hasilnya keluar.

"Kalau kapan hasilnya, terus terang, itu kami enggak bisa prediksi. Namun, WADA (World Anti-Doping Agency) ini kan ada di Jepang dan mereka pasti kerjanya lebih cepat. Dari awal memang sudah diumumin di sini, ada potensi itu, kami enggak mau doain orang jelek, cuma kami minta keadilan saja," kata Okto.

"[Tes doping itu] ada sih mestinya. Sejauh ini, dari informasi yang kami dapat sih ada. Nanti saya crosscheck sama federasi angkat besi. Karena kan gini, dalam olahraga itu, doping adalah sesuatu yang sangat sensitif di Olimpiade. Kalau ada penggunaan doping itu, dampaknya cukup signifikan. Semua pasti hati-hati," tandasnya.

sumber: kumparan.com