Catatan Redaksi

Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga dan Wakil Bupati Zonny Waldi baru saja menerima rekor MURI [Museum Rekor Indonesia] atas pencapaian pembangunan jalan swadaya terpanjang dalam 100 hari kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati.

Sebagai Bupati, Radiapoh mendapati sekitar 1032 Km infrastruktur jalan di Simalungun dalam kondisi rusak ringan, parah hingga memprihatinkan. Namun sekarang kurang lebih 317 Km jalan yang tersebar di wilayah Simalungun itu sudah dapat dilalui.

Pencapaian ratusan kilometer jalan itu pun tidak lepas dari gerakan Gotong royong atau ‘Marharoan Bolon’ [dalam bahasa daerah Simalungun], yang diluncurkan pada pekan pertama Mei 2021 setelah Radiapoh-Zonny dilantik oleh Gubsu pada 26 April 2021. 

Pada acara syukuran pelantikan, Radiapoh menyatakan tak punya program 100 hari kerja, namun akan melakukan perubahan secara menyeluruh terutama perbaikan [infrastruktur] jalan.

Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga saat menggelar acara syukuran di kediamanya di Jalan Surung Dayung sepulang dari acara pelantikan Bupati dan Wakil Bupati, Senin (26/4/2021).

Dari pernyataannya itu, tampaknya Radiapoh bukan tipe pemimpin yang suka mengumbar janji pakai tenaga media. Namun sebaliknya ia mampu mencapai rekor perbaikan dan pembangunan jalan swadaya terpanjang dalam 100 hari, hingga tak menyangka menerima piagam rekor MURI.

Warga Kabupaten Simalungun yang terlibat Marharoan Bolon patut diacungi jempol. Mereka telah menyeka peluh keringat memecah batu dan mengayunkan cangkul di bawah terik matahari. 

Mereka juga tak pernah mempersoalkan bahwa sesungguhnya pembangunan infrastruktur jalan adalah tanggungjawab penuh pemerintah. Namun dengan keinginan tulus bagaimana supaya jalan menuju tempat tinggal mereka dapat dilalui dengan nyaman.

Gerakan Marharoan Bolon ini [harapannya] tak berhenti setelah berhasil memajang piagam rekor MURI. Tapi akan terus berlanjut sampai 10332 Km jalan yang rusak itu dapat diperbaiki, meski hasilnya tak semulus jalan Tol. 

Tentunya itu semua bukan pekerjaan mudah. Selain keterbatasan anggaran, pekerjaan berat kepala daerah saat ini adalah menangani  pandemi covid 19 yang tak berkesudahan.

Warga memperbaiki jalan di Kecamatan Dolok Pardamean, Selasa 8 Juni 2021. [dok: istimewa]
Jika diamati, wilayah Kabupaten Simalungun termasuk babak belur menangani gelobang ketiga pandemi covid 19. Hingga Gubsu menetapkan Kabupaten Simalungun dalam PPKM Level III. 

Selama itu pula Satgas covid 19 Simalungun seakan tak berdaya. Rentetan kasus terpapar kian menyebar hingga ke pelosok daerah dan program vaksinasi belum capai target. Warga jangan sampai lelah menanti upaya Radiapoh-Zonny.

Bupati dan Wakil Bupati Simalungun seharusnya mampu menurunkan grafik pandemi yang kian menajam dengan gerakan Marharoan Bolon. Sebab bukan cuma perbaiki jalan rusak, semua pihak khususnya masyarakat bisa bergotong royong menyelesaikan penyakit menular ini.