JAKARTA, HETANEWS.com - Pengecatan ulang pesawat kepresidenan menjadi merah putih mendapat kritikan luas. Sebab, pengecatan yang menelan anggaran sekitar Rp 2 miliar itu dilakukan di tengah pandemi corona.

Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat, Andi Mallarangeng, mengatakan di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 10 tahun, pesawat kepresidenan tidak pernah dicat ulang.

Andi menyebut selama 10 tahun SBY memakai pesawat bekas Presiden Soeharto dan cat pesawat tetap sama yakni kuning keemasan, tak pernah diganti.

"Kalau pesawat kan waktu zaman Pak SBY menggunakan pesawat presiden itu yang tinggalnya Pak Harto. Tapi itu rasanya enggak pernah ada, setahu saya enggak pernah ada pengecatan-pengecatan. Selama 10 tahun beliau menggunakan tinggalan dari Pak Soeharto dan tidak pernah diubah catnya atau pakai Garuda," kata Andi kepada kumparan, Rabu (3/8).

Eks Jubir SBY ini menuturkan selama pemerintahan SBY, pesawat hanya diganti sekali dan tak ada pengecatan ulang. Dia menyebut pemerintahan SBY membeli pesawat baru karena sudah terlalu tua. Dan kini, pesawat itu dipakai oleh Presiden Jokowi.

"Waktu itu pesawat itu kan jaraknya pendek sekali, jadi ketika kita sedang berada di Papua Nabire tiba-tiba ada tsunami di Aceh, jadi dari Papua kita ke Aceh itu harus berhenti di Ambon, Makassar, berhenti lagi di Batam, lalu Lhokseumawe baru sampe Banda Aceh. Bayangkan jadi pesawat yang lama itu yang dari peninggalannya Pak Harto itu," ujarnya.

"Zaman Pak SBY kita mencarter pesawat Garuda. Jadi kalau jarak panjang terutama kalau ke luar negeri termasuk ke daerah, luar negeri yang jauh-jauh, atau kawasan ASEAN pun harus menggunakan mencarter Pesawat Garuda. Dan ongkosnya mahal sehingga akhirnya diputuskan untuk membeli pesawat kepresidenan yang baru yang Boeing itu" jelas dia.

Andi menuturkan pesawat baru itu hanya dipakai SBY beberapa bulan saja sebelum diganti oleh Jokowi.

"Tapi itu sampainya saat terkahir sebelum Pak SBY (diganti), jadi 2014 datangnya. Hanya digunakan beberapa bulan oleh Pak SBY," ujar Andi.

Andi mengatakan selama kepemimpinan SBY juga tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk pengecatan pesawat. Ia menyebut anggaran hanya dialokasikan untuk membeli pesawat baru dengan harapan agar presiden berikutnya memiliki mobilitas yang baik.

"Setahu saya tidak ada anggaran (pengecatan) kaya itu karena kalau pesawat baru yang datang ini ya sudah begitu datangnya begitu itu warnanya" kata dia.

"Jadi Pak SBY berpikir memang perlu untuk presiden yang berikutnya punya kemampuan mobilitas yang tinggi untuk ke mana-mana di seluruh Indonesia dari Papua ke Banda Aceh bisa langsung. Apalagi ke negara-negara ASEAN juga bisa languang bahkan kalau digunakan sampai ke yang jauh pun ke Eropa pun bisa," tandas Andi.

sumber: kumparan.com