MEDAN, HETANEWS.com - Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko memimpin konfrensi pers di Mako Polres, Senin (2/8/2021) terkait tindak pidana penganiayaan berat terhadap korban, Persada Bhayangkara Sembiring.

Riko Sunarko menyebutkan Persada Bhayangkara Sembiring alias PBS disiram air keras lantaran menaikkan tarif yang tidak dibayarkan pihak gelanggang permainan tembak ikan di Daerah Tuntungan.

Penyiraman terhadap korban dilakukan oleh tersangka Usman Agus alias UA dan kawan-kawan dengan perencanaan. Sejak Juni ada permintaan uang kepada pemilik gelanggang tersebut.

Dimana, biasanya PBS meminta jatah bulanan dan ini sudah berlangsung sekitar 8 kali. Permintaan uang ini mulai dari angka Rp 500 Ribu kemudian dinaikkan sejuta. 

Dari sejuta kemudian naik lagi menjadi dua juta dan terakhir PBS meminta jatah Rp 4 Juta per bulan. Riko menuturkan Sempurna Sembiring alias SS keberatan dimintai Rp 4 Juta per bulan.

Karena itu, pemilik gelanggang ini berpikir untuk memberi Persada Sembiring pelajaran dengan menyiram air keras. Sempurna Sembiring yang menjadi otak perencanaan penyiraman air keras kemudian menyampaikan niatnya tersebut kepada Heri.

"SS pun menyampaikan kepada Heri bahwa korban perlu diberi pelajaran," tambah Riko.

Biasanya, korban PBS menerima uang dari pemilik gelanggang permainan tersebut. Namun hingga bulan 21 Juni 2021 jatah yang seharusnya diterimanya terlambat dan PBS mengirim beberapa link berita kepada SS melalui whatsApp.

PBS mengatakan bahwa link berita tersebut belum dibagikan. Karena itu PBS meminta SS segera membayarkan jatah untuk bulan Juni dengan angka yang lebih tinggi yaitu sebesar Rp 4 Juta.

Permintaan PBS disanggupi SS namun untuk pembayaran bulan Juli kembali tersendat hingga 24 Juli 2021. Kemudian pada 25 Juli 2021, Heri dan PBS sepakat untuk bertemu di Simpang Tuntungan di depan rumah makan Tessalonika.

Baca juga: Wartawan Media Online di Medan Disiram Air Keras, PWI Sumut Desak Polisi Usut Tuntas

Sementara Heri Sanjaya Tarigan datang bersama Sempurna Sembiring dan seorang driver pergi mencari eksekutor penyiraman. Lalu, Agus, Iskandar dan Narkis mengatur strategi eksekusi.

Eksekusi pun direncakan di Jalan Petuna 8 Desa Namo Gajah Kecamatan Medan Tuntungan. Pemindahan air keras dsri botol kratingdeng ke dalam botol aqua yang sudah dipotong.

Narkis dan Usman Agus pun berinisiatif membeli air keras dengan mengendarai sepeda motor. Kemudian keduanya menuju TPK Simpang Selayang, Medan Tuntungan.

Dalam hal ini, Narkis sebagai Joki eksekutor penyiraman air keras. Sedangkan Usman Agus sebagai joki atau pengendara sepeda motor. Pemindahan air keras dari botol kratingdeng ke dalam botol aqua yang sudah dipotong.

Lalu, setelah berjanji untuk bertemu korban Persada sekitar Pukul 21.00 WIB pada 25 Juli 2021 mengirim pesan WA kepada Heri bahawa dia sudah menunggi di TKP.

Lalu, Heri pun menunjukkan foto kepada para eksekutor. Mereka pin bergegas ke Simpang Selayang, Medan Tuntungan dan di tengah perjalanan memindahkan air keras ke dalam aqua.

Kemudian saat bertemu, Narkis langsung menyiramkan air keras ke wajah Persada. Korban pun mengalami lupa pada wajah dan sekujur tubuh. Disinggung soal Gelanggang Permainan tersebut, Riko menyabut belum memastikan sebagai tempat judi tembak ikan.

"Kita pernah melakukan penindakan di tenpat tersebut, namun yang pertama tidak tertangkap tangan. Namun di sana adalah pelanggaran terkait dengan ijin pelanggaran permainan. Kita belum menemukan adanya unsur-unsur tindak pidana judi,"sebutnya.

Sunarko meyebut, isi berita yang dikirim Persada kepasa SS terkait dugan pelanggaran Protokol Kesehatam (Prokes) Covid-19.

Sementara keterangan yang diberikan Kombes Pol Tatan Atmaja Dirkrimum Polda Sumut pada temu Pers tersebut, awalnya berita yang dibuat Persada adalah mengenai dugaan Gelanggang Permainan Game Ikan.

Baca juga: Satu Orang Terduga Bandar Judi Ditangkap Kasus Kekerasan Wartawan

Sumber: tribunnews.com