JAKARTA, HETANEWS.com - Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dr Tri Yunis Miko Wahyono, menyatakan angka kasus positif di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan apa yang dilaporkan oleh Satgas Covid-19. 

Miko mengatakan, kasus Covid-19 di Indonesia seharusnya berada di peringkat ke-3 tertinggi di dunia.

“Prevalensi kita sebenarnya tidak sama dengan yang dilaporkan (Satgas). Menurut saya, yang terjadi saat ini adalah tsunami Covid-19,” kata Miko dalam webinar Ikatan Alumni (Iluni) UI bertajuk “Bagaimana Strategi Penanganan Covid-19 Gelombang ke-2”, Sabtu (31/7/2021).

Miko mengatakan, kasus tertinggi Covid-19 saat ini dilaporkan dari Amerika Serikat (AS) sebanyak 34,75 juta kasus, India dengan 31,57 kasus, dan Brasil dengan 19,84 juta kasus.

“Jadi menurut saya, Indonesia seharusnya menduduki peringkat ke-4 bahkan ke-3, tapi menariknya Indonesia di urutan ke-29 dengan 3,33 juta kasus,” katanya.

Miko mengaku telah melakukan tiga kali survei prevalensi kasus Covid-19. Pertama, digelar di Provinsi Bali periode November-Desember 2020 dengan hasil yang mencengangkan. Angka kasus di Pulau Dewata ditemukan 54 kali lebih tinggi dibandingkan data pemerintah.

Kedua, dilakukan di Provinsi DKI Jakarta pada Januari-Maret 2021 yang hasilnya menunjukkan 45% warga ibu kota telah terinfeksi Covid-19.

Ketiga, dilakukan secara nasional di 17 provinsi dan 69 kabupaten/kota di Indonesia oleh UI bersama Universitas Airlangga dan Universitas Hassanudin. Hasil prevalensinya juga jauh lebih tinggi dari data kasus Covid-19 saat ini.

“Jadi menurut saya prevalensi kita tidak seperti dilaporkan Satgas atau Gubernur. Memang kita harus jujur pada diri kita sendiri. Hasil survei ini tidak saya sampaikan di mana pun,” kata Miko, yang saat dikonfirmasi langsung oleh Beritasatu.com enggan memberikan perincian hasil survei kasus secara nasional.

Menurut Miko, berdasarkan hasil survei tersebut seharusnya kasus di Indonesia akan terus naik dan mengalami peningkatan luar biasa pada Juli.

“Hasil survei (nasional) sudah saya laporkan kepada WHO dan WHO sudah tahu prevalensi kita atas survei pada Desember 2020 sampai Januari 2021 itu. Saya juga sudah melaporkan ke Menteri Kesehatan dan Deputi Menko Perekonomian,” katanya.

Miko menegaskan, upaya pengendalian Covid-19 di Indonesia harus dilakukan secara sistematis dengan deteksi dini, bukan sekadar testing. Pemerintah harus berupaya mendeteksi semua kasus dalam populasi, kemudian melakukan isolasi, serta karantina kepada semua kontak erat.

“Pemerintah tidak serius dengan kondisi pandemi saat ini. Jadi seolah-olah politik dinomorsatukan dibandingkan penderitaan masyarakat. Demi politik, kita berdiplomasi, tapi yang menjadi korban adalah penderitaan rakyat,” kata Miko.

“Kalau menangani penyakit itu jangan pakai politik, jangan pakai pertimbangan ekonomi, harusnya pertimbangannya adalah keselamatan rakyat,” lanjutnya.

Sumber: beritasatu.com