SIANTAR, hetanews.com - KontraS Sumatera Utara gelar diskusi kecil bersama beberapa jurnalis, LBH dan mahasiswa dengan tema "Mengukur Efektivitas Hukuman Mati" di Siantar Hotel pada Sabtu (24/7/2021).

Hukuman mati dianggap bertentangan dengan Hak Asasi Manusia karena orang-orang mempunyai hak hidup dan berhak merubah hidupnya seperti yang dikatakan Rahmat Muhammad selaku Staf Penelitian KontraS Sumut sore itu.

"Hukuman mati tidak terbukti memberi efek jera dan menghilangkan kejahatan, terpidana harus menjalani hukuman bertahun-tahun sebelum akhirnya dieksekusi mati (tidak ada mekanisme penilaian untuk narapidana hukuman mati yang sudah berkelakuan baik di dalam penjara)," ujarnya.

Seperti halnya kasus pembunuhan yang baru saja menimpa salah satu rekan wartawan yang pelakunya terancam hukuman mati, para jurnalis yang hadir dalam diskusi tersebut pun melayangkan perspektif menolak hukuman mati dengan berbagai alasan.

Salah satunya menyarankan kepada pemerintah untuk membenahi APH (Aparat Penegak Hukum) dan bongkar dulu sindikat-sindikat dibalik kasus tersebut, kalau tidak dibongkar sindikat itu diyakini akan bebas gentayangan dan akan terjadi kasus-kasus yang sama.

Hukuman mati juga dianggap tidak menyelesaikan masalah karena Indonesia yang dari dulu sudah menerapkan hukuman mati tapi kejahatan masih bebas berkeliaran.

Diskusi yang dimoderatori oleh Adinda Zahra Novianti yang juva Staf Informasi dan Dokumentasi KontraS Sumut itu berlangsung seru, pasalnya banyak perspektif-perspektif menolak dan menyetujui adanya penerapan hukuman mati di Indonesia.

Ada juga peserta diskusi yang menyetujui hukuman mati namun tergantung pada kejahatan apa yang telah ia perbuat.

Dana untuk hukuman mati sebesar Rp 200 juta per kepala dinilai lebih baik dialih fungsikan untuk membenahi fasilitas lapas yang semakin banyak penghuninya.