HETANEWS.com - Polisi memasang kawat berduri dan barikade beton di sekitar Istana Kepresidenan di Jakarta Pusat pada hari Sabtu dalam upaya untuk memperketat keamanan setelah seruan untuk pawai anti pemerintah menyebar di kalangan masyarakat.

Jalan-jalan tertentu di daerah Harmoni dan yang menuju ke istana juga ditutup. Lebih dari 3.000 personel dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), polisi dan pemerintah Jakarta dikerahkan untuk mengamankan lokasi lain di Jakarta, termasuk Monumen Nasional (Monas) dan gedung DPR di Senayan, menurut laporan media.

Beberapa orang yang dituduh menghasut protes ditahan pada hari Sabtu di markas Polda Metro Jaya.

“Peran mereka masih didalami,” kata Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar. Marsudianto, seperti dikutip Tempo.co

Imbauan kepada masyarakat pada Sabtu untuk menentang pembatasan kegiatan masyarakat darurat (PPKM Darurat) telah beredar di media sosial dan grup WhatsApp.

Dalam pamflet digital yang dibagikan secara luas dengan tulisan “Jokowi Endgame” di atasnya, logo aplikasi transportasi online Gojek dan Grab, aliansi mahasiswa dan serikat pekerja ditampilkan sebagai peserta. Selebaran itu merujuk pada Presiden Joko "Jokowi" Widodo. Menurut brosur, peserta akan berbaris dari Glodok menuju keraton.

“Mengajak semua elemen masyarakat turun ke jalan untuk berbaris melawan PPKM dan menghancurkan oligarki istana,” bunyi selebaran itu.

Kapolres mengimbau masyarakat untuk tidak ikut dalam aksi unjuk rasa tersebut.

“Kami berharap masyarakat menghindari keramaian, mengingat kasus COVID-19 masih tinggi,” kata Juru Bicara Polri Kombes. kata Argo Yuwono dalam keterangannya, Jumat.

Berbicara pada konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Sabtu, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan "sekelompok orang" mencoba memanfaatkan pandemi untuk menjatuhkan pemerintah.

“Pemerintah sadar ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan situasi. […] Mereka hanya ingin menentang pemerintah, memanfaatkan situasi,” katanya.

Dia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan mengatakan pemerintah mencatat dan mendengarkan kekhawatiran masyarakat.

“Pemerintah memahami bahwa ada kecemasan dan kekhawatiran tentang ketidakpastian situasi COVID-19,” katanya.

“Kami akan bekerja sama dengan tokoh agama dan masyarakat untuk membangun solidaritas dalam memerangi COVID-19.”

Grab dan komunitas pengemudi Gojek, yang logonya terpampang di pamflet, membantah terlibat dalam demonstrasi yang direncanakan, menurut laporan media.

Sumber: thejakartapost.com