SIANTAR, Hetanews.com - Nasib malang dialami Kristin Nova Leli Panjaitan , warga Huta III Lumban Lintong Kelurahan Mariah Hombang, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun. Pasalnya, dia ditelantarkan pihak Rumah Sakit Vita Insani Kota Siantar selama 6 jam.

Kejadian bermula saat korban Kristin Nova Leli Panjaitan (27) mengalami kecelakaan sepeda motor di Jalan besar Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. Karena mendapat luka serius, korban langsung dilarikan warga setempat ke RS Vita Insani.

Persisnya di Jalan Merdeka, Kota Siantar, Selasa (20/7) siang sekira jam 13.15 WIB. Selama dirumah sakit, korban menjalani pemeriksaan Swab Antigen Sars CoV-2  dan dinyatakan Positif Covid-19. Keluarga yang mendengar hal itupun bingung.

Salah satu keluarga korban ditemui, Jumat (23/7) siang sekira jam 13.00 WIB mengatakan dirinya tak bisa berkata-kata saat korban menjalani pemeriksaan oleh dokter bedah. Apalagi sesudah mendengar korban yang dinyatanan Positif Covid-19 oleh dokter.

"Waktu sampai sudah dilakukan swab test. Dr Edwin, dia dokter yang nyatakan postif. Kami terkejut, lalu bilang ke dokter itu kalau korban alami kecelakaan dan bukan penyakit Covid. Belum lagi dia sadar, uda dinyatakan kek gitu," ujar Yanti Malau.

Kepada pihak keluarga kata Yanti Malau, Humas Rs Vita Insani Trisno Munte mengaku saat korban diperiksa dan dilakukan Swab Test dengan hasil yang yang positif. Hal tersebut bukan menjadi jaminan bahwa sang korban positif.

"Humasnya pun bilang mereka tidak mempunyai fasilitas yang lengkap untuk ruang covid-19 dan kecelakaan dikarenakan harus membutuhkan 3 dokter bedah sekaligus. Dengar jawaban dia kami kebingungan harus buat apa," jelas Malau.

Setelah mendengar pernyataan dari Humas, Yanti Malau mengaku tak satupun perawat atau dokter yang menangani korban yang berbaring di ruang IGD Isolasi. Padahal sambung dia, pihaknya sudah memohon kepada perawat Vita Insani untuk ditangani.

Hasilnya tetap saja, pihak Rs Vita Insani tetap ngotot agar korban dirujuk di Rumah Sakit lain, yakni ke RSUD Djasamen Saragih dan RS Efarina dengan persyaratan, harus menandatangani surat pernyataan isolasi.

Isinya, pasien akan dirawat diruang isolasi. Pasien tidak boleh didampingi oleh keluarga selama dalam perawatan. Tidak ada jam kunjungan keluarga. Pasien membawa smart phone / handphone disertai chargernya masing masing.

Kemudian, apabila pasien meninggal selama perawatan di RS, jenazah tidak boleh dibawa pulang dan akan dilakukan pemakaman sesuai dengan protokol Covid-19. Adanya syarat tersebut, pihak keluarga korban bersepakat tidak menandatangani.

"Kami nggak setuju, makannya kami bawa sendiri korban ke RSUD Djasamen Saragih yang berada di Jalan Sutomo, sekira jam 21.00 WIB malam. Selesai melakukan pembayaran administrasi jam 23.00 WIB di Vita Insani. Korban kami bawa ke RSUD," ujarnya lagi.

Hingga akhirnya, korban pun dilakukan pemeriksaan Antigen dan hasilnya juga dinyatakan positif covid-19. Sampai esok harinya, (21/7) korban masih tetap berada di ruangan IGD karena ruangan untuk Isolasi masih terisi penuh oleh pasien.

"Karena kata pihak RS dinyatakan Reaktif tidak dapat dirawat diruangan umum. Mereka pun nyarankan korban dirujuk ke Medan. Tapi sorenya meninggal. Itupun mereka bilang harus dimakamkan sesuai protokol," imbunya Yanti.

Masih kata Yanti, meski belum bisa dipastikan korban positif atau bukan. Apalagi karena awalnya hanya dikatakan Reaktif. Pihaknya harus menandatangani surat bahwa bersedia dikebumikan sebagaimana layaknya penderita covid 19.

"Petugas gugus tugas marga simatupang bilang sama kami kalau korban adalah pasien yang dirujuk dari RS Vita Insani. Spontan kami membantah. Karena kami kan kesana atas inisiatif sendiri dan keluar dari RS Vita Insani adalah kemauan sendiri. Ada apa dibalik semua ini?," tanyanya.

Lebih lanjut dikatakan, pihak keluarga menaru curiga bahwa adanya permainan dalam hasil Antigen tersebut. Bahkan menduga korban dipaksakan harus positif covid. Karena itu pihak keluarga berharap Rumah Sakit harus profesional.

"Sesuai dengan sumpah nya sebagai dokter indonesia yang berbunyi " Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan membaktikan hidup saya guna perikemanusiaan. Namun dalam kejadian ini, kami malah tidak menemukan itu," terangnya.