JAKARTA, HETANEWS.com - Orang yang divaksinasi akan meninggal dalam dua tahun. Ambulans dengan sirene yang dihidupkan sebenarnya kosong dan dimaksudkan hanya untuk menakut-nakuti orang agar tinggal di rumah.

Ini adalah salah satu hoaks yang beredar secara online yang membuat pihak berwenang Indonesia semakin sulit untuk mengekang penyebaran Covid-19.

Tekanan sekarang meningkat pada pemerintah daerah dan pemimpin masyarakat di seluruh negara berpenduduk terbesar keempat di dunia serta di media sosial raksasa Facebook untuk menangani fenomena tersebut.

Awal bulan ini, pada 9 Juli, massa melemparkan batu ke ambulans yang lewat di Klaten, Jawa Tengah, hingga kaca depan mobil itu pecah. 

Pengemudi dan pasien di dalam pesawat tiba dengan selamat di rumah sakit, lapor portal berita Detik.com yang berbasis di Jakarta. Insiden serupa terjadi di kota-kota lain, termasuk Yogyakarta dan Solo, awal bulan ini, menurut Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

"Ini terjadi bahkan ketika petugas yang menjaga ambulans mulai stres karena antrian pasien yang panjang," kata Mafindo dalam sebuah pernyataan, Rabu (21 Juli).

Di media sosial, ini adalah pertempuran antara mereka yang rasional dan mereka yang tidak, kata Ketua Mafindo Septiaji Eko Nugroho kepada The Straits Times, Rabu. Dia menggambarkan misinformasi Covid-19 sebagai sesuatu yang berbahaya, karena menghalangi upaya untuk menahan pandemi.

Indonesia telah memperpanjang penguncian sebagian, yang akan berakhir pada Selasa, hingga Minggu karena terus berjuang melawan lonjakan rekor kasus Covid-19 yang disebabkan oleh varian Delta yang lebih menular dari virus corona.

Di bawah pembatasan darurat yang diberlakukan pada 3 Juli, toko kelontong dan supermarket di pulau Jawa dan Bali, yang merupakan dua pertiga dari kasus Covid-19 secara nasional, harus membatasi pelanggan hingga setengah kapasitas mereka dan tutup pada pukul 8 malam.

Tempat-tempat umum, seperti pusat perbelanjaan, taman, dan tempat ibadah ditutup, sedangkan tempat makan hanya bisa melayani takeaway dan delivery. Pembatasan itu diperluas mulai 12 Juli untuk mencakup 15 kabupaten dan kota di luar dua pulau utama.

“Pembatasan darurat ini harus dibarengi dengan upaya serius untuk menekan saluran penyebaran hoaks. Hoax menyebabkan pelanggaran protokol kesehatan, dan penentangan terhadap vaksin,” kata Septiaji, mencontohkan bahwa ada kasus di mana orang dirawat di rumah sakit terlambat dan meninggal karena tidak mempercayai sistem kesehatan.

Eko Juniarto, petugas Mafindo yang membidangi pengecekan fakta, memperkirakan jumlah hoaks 10 kali lipat dari jumlah klarifikasi.

"Ini masalah serius. Banyak orang lebih mudah terkena hoaks, sementara sedikit orang yang membaca klarifikasinya," katanya.

Setidaknya satu dokter telah ditangkap oleh polisi kejahatan dunia maya, diinterogasi dan kemudian dibebaskan setelah beredar di media sosial untuk menyatakan bahwa Covid-19 adalah bohong dan bahwa orang sehat telah meninggal karena "obat yang berlebihan".

Polisi mengatakan Dr Lois Owien telah mengakui bahwa pandangan pribadinya tidak didasarkan pada penelitian yang memadai tetapi ini tidak menghentikan ribuan pengikutnya untuk terus mendukung keyakinannya.

Enam puluh persen hoaks di Indonesia beredar di Facebook, karena negara ini adalah pengguna Facebook terbesar ketiga di dunia, di belakang India dan Amerika Serikat, kata Septiaji kepada The Straits Times. Media sosial lainnya bertanggung jawab atas sisa 40 persen hoax yang beredar.

Mafindo juga mendesak desa dan rumah sakit untuk meningkatkan upaya memerangi misinformasi tentang Covid-19 dengan secara teratur memasang poster yang berisi klarifikasi hoaks terbaru. Ia juga meminta para pemimpin agama dan masyarakat untuk membantu.

Sumber: straitstimes.com