HETANEWS.com - Enggak sedikit siswa yang berpikir ranking di kelas menentukan nantinya bisa kuliah di mana. Padahal kenyataannya enggak selalu begitu, lho.

Kayak yang dialami Annisa Shava Azzahra. Dia dulunya ranking 33 dari 38 siswa, tapi kini bisa diterima kuliah di Universitas Indonesia (UI).

Gimana ceritanya?

  • Belajar enggak penting

Sejak SD sampai SMP, Annisa bilang dia cukup pintar di kelas. Tapi hanya pintar menghafal. Sedangkan saat SMK, dia menganggap belajar enggak ada gunanya buat kehidupan.

"Yang aku pikirkan cuma OSIS, lulus, kerja. Lagi pula ilmu-ilmu lain, selain kejuruan, enggak begitu penting!" katanya, dikutip dari Instagram @zeniuseducation.

Hasilnya ranking dia jeblok. Annisa berada di peringkat ke-33 dari 38 pelajar di kelasnya.

Sampai akhirnya di kelas 12 SMK, Annisa dihantui oleh masa depan dan pertanyaan, "Mau jadi apa?". Dia akhirnya memutuskan ikut belajar online.

"Pikiranku seperti didobrak, dirapikan, dan ditata kembali," ucapnya.

  • UI harga mati

Sejak itulah Annisa berubah dan kekeuh pada pendiriannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UI.

"UI harga mati," tegas dia.

Namun setelah lulus SMK, Annisa sempat memutuskan buat mengambil gap year selama dua tahun, yakni di 2019-2021. Kalau belum tahu, gap year adalah istilah bagi mereka yang udah lulus sekolah tapi berhenti atau beristirahat sebentar, sebelum melanjutkan ke fase selanjutnya.

Meski gap year, bukan berarti Annisa enggak melakukan apa-apa. Dia menghabiskannya buat bekerja, mengeksplorasi diri, mendapat banyak pengalaman, dan pastinya belajar untuk seleksi masuk perguruan tinggi.

"Banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan dari bekerja di tiga tempat berbeda, belajar dengan khidmat, dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan tutor-tutor," tuturnya.

Hasilnya kini, Annisa resmi menjadi mahasiswa baru di jurusan kuliah Antropologi Sosial UI.

sumber: kumparan.com