Simalungun, Hetanews - Ayah bejat tega mencabuli putri kandungnya yang masih berusia 12 tahun sebut saja Putri (nama samaran). AS (47) warga Kecamatan Jorlang Hataran Simalungun dituntut 13 tahun penjara, denda Rp 60 juta subsider 6 bulan kurungan. 

Tuntutan jaksa Devica dibacakan dalam persidangan Kamis (8/7) di Pengadilan Negeri Simalungun yang digelar secara virtual. Terdakwa dipersalahkan jaksa melanggar pasal I ke 1 yaitu pasal 81 ayat (3) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perpu) No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UURI No 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Menurut JPU, perbuatan itu dilakukan terdakwa pada Rabu 24 Februari 2021 pukul 19.00 Wib di perkebunan kelapa sawit di Bukit Dua Jorlang Hataran. Terdakwa sebagai ayah kandungnya secara paksa mencabuli putri. Awalnya korban dibawa naik sepeda motor dengan alasan untuk menanyakan durian.

Di tengah perjalanan pulang ke rumah, terdakwa beralasan mau buang air dalam kebun yang gelap dan sudah basah karena hujan. Lalu terdakwa menyuruh korban membuka pakaiannya agar bisa dipeluk biar hangat.

Saat putri menolak, terdakwa secara paksa menarik tangan korban dan memaksa korban untuk melayani nafsu bejatnya. Meski korban menangis karena kesakitan terdakwa tidak peduli.

Korban berhasil melarikan diri saat ada sebuah mobil truk yang melintas. Saat itu, terdakwa mengatakan akan menggeser sepeda motornya. Kesempatan itu dimanfaatkan korban dengan melompat naik ke dalam truk.

Melihat korban dalam keadaan kedinginan dan ketakutan, saksi Danny Saputra selaku supir truk menanyai korban. Korban pun menceritakan jika dia baru saja diperkosa ayah kandungnya. Lalu saksi Danny mengantarkan korban ke rumah orangtua korban.

Akibat perbuatan ayah bejat itu, korban menjadi kehilangan masa depan karena hymen sudah tidak utuh lagi. Sesuai hasil visum et revertum yang dibuat oleh dr Martha Silitonga SpOG pada RSU dr Djasamen Saragih P Siantar tanggal 26 Februari 2021 menyimpulkan jika hymen (selaput darah) tidak utuh lagi akibat ruda paksa.

Atas tuntutan jaksa, terdakwa didampingi pengacara dari LBH PK Fransiskus Silalahi SH memohon agar hakim meringankan hukuman terdakwa. Dengan alasan menyesal.

Untuk pembacaan putusan, persidangan dipimpin ketua majelis hakim Roziyanti SH ditunda hingga Rabu (14/7) memdatang.