JAKARTA, HETANEWS.com - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, berbicara soal pentingnya menerapkan etika saat berkecimpung dalam perusahaan. Terutama perusahaan BUMN yang notabene dibiayai oleh negara.

Menurut Ahok, etika ini juga perlu diaplikasikan dalam hal penggunaan anggaran yang biasanya diberikan sebagai penunjang kinerja karyawan BUMN.

Ia memberikan contoh dalam penggunaan asuransi dari Pertamina misalnya, dirinya pernah menolak memanfaatkan klaim untuk mengganti kacamata dengan harga yang menurutnya tidak masuk akal.

"Saya beri contoh ini soal etika, kita itu kan ada AdMedika (asuransi yang digunakan Pertamina), kadang-kadang namanya tenant maunya kasih yang termahal. Saya pernah mau ganti kacamata udah ganti aja yang baru katanya," cerita Ahok dalam webinar bertajuk etika bisnis yang digelar PPM Manajemen, Kamis (8/7).

"Saya bilang enggak bisa ini masih oke kok, ditawarin yang frame Rp 120 juta kan gendeng. Enggak bisa itu mahal, 'ya gapapa Pak ini dibayarin kok Pak', bagi saya itu etika ini adalah asas kepatutan," sambung Ahok.

Ia memberikan contoh kasus lain dalam hal pembelian baju batik misalnya, dengan alih-alih sebagai penunjang operasional. Menurut Ahok, membeli batik seharga Rp 20 juta itu termasuk dalam pemborosan anggaran yang tak masuk akal.

"Perlu enggak beli batik Rp 20 juta? kan enggak perlu. Kalau anda batik tulis bantu orang Rp 2 atau 3 juta okelah, karena itu karya seni kita tolongin," pungkasnya.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, kebiasaan-kebiasaan seperti ini mesti dicontohkan para pejabat BUMN. Dengan harapan hal seperti itu bisa menjadi role model dalam hal penerapan etika.

Bicara transformasi perusahaan pelat merah, kata Ahok, mesti dimulai dengan hal-hal kecil seperti itu. Ini juga yang membuat dia sempat bikin heboh beberapa waktu lalu dengan mengungkapkan besarnya limit kartu kreditnya sebagai petinggi BUMN.

"Bagi saya transparansi ini penting. Lalu kita harus jadi showcase mempertontonkan ada kemampuan transformasi di republik ini. Asal kalau kepalanya lurus, bawahnya enggak berani enggak lurus. Sistem yang terbuka ini akan membuat orang yang jadi role model mentransformasi budaya ," tuturnya.

sumber: kumparan.com