Simalungun, hetanews.com – Ada harapan dan pemulihan bagi warga Simalungun pada saat Radiapoh Hasiolan Sinaga (RHS) dan pasangan nya H Zonni Waldy dilantik menjadi bupati dan wakil bupati Simalungun, periode 2020 – 2024, karna dinilai akan membawa perubahan yang signifikan bagi pembangunan kabupaten Simalungun.

Membangun Simalungun dengan Filoshophi MarharoanBolon di wilayah HabonaronDoBona merupakan Gerakan yang sudah diwakafkan oleh Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga SH dan Wakil Bupati Jhonny Waldi SSos agar Masyarakat Simalungun Hidup Sejahtera.

Ketika program ini digaungkan, beragam tanggapan dari warga. Walaupun ada yang mengatakan itu hanya bentuk pencitraan tapi sebagian besar warga Simalungun mendukung program tersebut dan siap untuk dilibatkan.

Namun setelah melihat bagaimana MarharoanBolon dilaksanakan oleh Pemkab Simalungun, warga menjadi antipati. MarharoanBolon akhirnya diplesetkan menjadi program minta minta oleh bupati kepada berbagai instansi dan pengusaha, yang bisa saja menjadi ajang pungli.

Warga yang berharap kinerja bupati dan wakil bupati yang bersih tanpa ada unsur pengutipan dan lain lain, ternyata telah dinodai dengan penjualan bingkai foto bupati dan wakilnya kepada kepala sekolah dengan unsur pemaksaan. Hingga sekarang blom ada klarifikasi dari sang pemimpin.

Kemudian Pemkab Simalungun diselimuti awan penggunaan undang undang yang amburadul, dimana pengangkatan 3 tenaga ahli, yang masih menjadi perdebatan panjang, namun telah terjadi pembiaran oleh RHS dan Zonni, tanpa mau menyelesaikan masalah dengan elegan.

Pengunduran diri sekda Simalungun yang secara tiba tiba, bahkan ada yang menilai telah melanggar sumpah jabatan sebagai ASN, dibiarkan begitu saja. Bahkan kinerja Kabag Hukum yang masih gamang karna tidak mengerti tupoksi kerja.

Bahkan yang lebih membingungkan, kinerja Kabag Umum yang lalai dan membiarkan orang lain yang bukan ASN mengambil alih kinerja nya. Bupati Sedang Menjamu Makan malam Dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Wilayah Pemkab Simalungun, Malah yang Bayar malah Orang Lain, Bagian Umum lalai tidak menjalankan Tupoksinya.

Anggota DPRD Simalungun Masih Bungkam dan Suaranya Belum Bergema, Belum Mampu bersuara Dengan Lantang, kurang mendengar aspirasi Rakyat yang memilihnya, terbukti bahwa situasi Keuangan APBD WDP (Wajar Dengan Pengecualian) apakah benar seperti itu, kenapa tidak WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) atau Disclaimer, Kenapa Wakil Rakyatnya masih Belum Bergema??? Apakah sudah tidak punya nyali dan tidak Suara lagi???

Mengutip satu pernyataan dari nitizen, yang telah dikemasnya menjadi sebuah tagline untuk menggambarkan kondisi pemkab Simalungun saat ini. Harianto Sinaga menggambarkan kondisi tersebut ibarat ‘Keluar dari Mulut Buaya, Masuk Ke Kebung Binatang’. Dikebun Binatang itu banyak Binatang Buas mulai Ular Derik, Kancil hingga Leopard atau Singa.