Siantar, hetanews.com – Kasus pembunuhan terhadap wartawan Siantar, Marsal Harahap bermula dari pemberitaan yang berujung dengan permintaan uang pengaman, yang menurut S, sebagai pemilik dari Ferari Resto n Cafe di jalan Sisingamangaraja tidak masuk akal.

Menurut penuturan dari Kapoldasu Irjen Panca Simanjuntak, Marsal Harahap kerap melakukan kritikan terhadap usaha milik S, lalu dilakukan pertemuan dengan korban. Dalam pertemuan tersebut, tidak ada kata deal sehingga menyebabkan rasa kesal terhadap pemilik usaha.

Hasil penyelidikan yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, Marsal akan berhenti memberitakan Ferari apabila diberikan uang sebesar 12 juta perbulan, dengan rincian korban mendapat jatah 2 butir pil ekstasi setiap hari (satu butir ekstasi senilai 200 ribu).

Karena merasa tidak ada titik temu S meminta kepada YFP untuk melakukan pembelajaran terhadap Marsal. Lalu diadakan pertemuan di rumah kediaman S di jalan Seram untuk membahas rencana tersebut.

Kemudian S mentransfer dana sebesar 15 juta kepada saudara A (oknum) untuk membeli senjata api (senpi), kemudian mentransfer kembali 10 juta kepada A. Sedangkan untuk YFP mendapat transferan dana sebesar 5 juta dan mengambil dari kasir Ferari senilai 3 juta.

Setelah melakukan aksinya, YFP dan A kembali ke Sapadia Hotel untuk mengembalikan sepeda motor, lalu kemudian kembali ke Ferari. Sedangkan senpi yang digunakan untuk melakukan penembakan disimpan oleh YFP.

Dari hasil pengakuan YFP tidak ada niat untuk melakukan pembunuhan hanya sekedar memberikan pembelajaran. Hal yang sama juga dikatakan oleh S, dimana dia memerintahkan YFP dan A untuk sebuah shockterapi karena menjadi pengganggu.