JAKARTA, HETANEWS.com - Penyebaran COVID-19 di Indonesia saat ini kian mengkhawatirkan. Terlebih setelah varian baru corona dari India dan Afrika masuk ke Indonesia dan memakan banyak korban.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, saat ini episentrum atau pusat penyebaran COVID-19 ada di Kudus, Jawa Tengah, Bangkalan, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

"Episentrum penyebaran COVID-19 saat ini ada di Kudus, Bangkalan, dan Jakarta. Di Kudus meningkat 61 persen, di Bangkalan 63 persen, sehingga ketersediaan tempat tidur (untuk pasien corona) meningkat 61 persen," ujar Sigit dalam raker bersama Komisi III DPR, Rabu (16/6).

Di Kudus, penyebaran klaster halal bihalal berawal dari 6 desa menjadi 45 desa, lalu menjadi 60 desa yang mengakibatkan 181 orang positif COVID-19. Kasus aktif saar ini mencapai 2.255 kasus dari minggu sebelumnya di angka 1.400-an kasus, atau meningkat 61 persen. Sehingga menyebabkan kenaikan tingkat keterpakaian tempat tidur menjadi 96 persen.

Di Bangkalan, berawal dari warga yang tak mau diperiksa COVID-19 mengikuti kegiatan halal bihalal sehingga menyebabkan klaster penyebaran penularan juga terjadi karena tenaga medis yang memberikan pelayanan di Puskesmas hanya menggunakan masker tanpa menggunakan APD.

"Akibatnya 599 orang positif COVID-19 dan 7 orang meninggal dunia termasuk di antaranya 3 orang tenaga medis. Kasus aktif saat ini mencapai 392 kasus dari minggu sebelumnya di angka 50-an kasus, atau meningkat 68 persen, sehingga menyebabkan kenaikan tingkat keterpakaian tempat tidur menjadi 61 persen," jelas Sigit,

Di DKI Jakarta pasca libur Lebaran 2021 terdapat 5 klaster COVID-19 di DKI Jakarta, yaitu klaster halal bihalal di Cipayung, klaster takziah di Cilincing, klaster perumahan di Kelapa Dua, Tangsel, klaster ibadah gereja di Kayu Putih, dan klaster keluarga di Ciracas.

Dari 1.568 orang yang di tracing pada 5 klaster tersebut, terdapat 317 orang yang terkonfirmasi positif.

Terhadap episentrum tersebut, Polri mengoptimalkan 5M dan memaksimalkan 3T. Mulai dari sistem pendataan one gate system, rasio pelacakan, memberikan imbauan, meningkatkan kegiatan testing, dan menambah tenaga kesehatan.

"Lalu kerja sama dengan Dinas Kesehatan dengan mempersiapkan alkes dan obat-obatan yang kami kirim ke masyarakat yang melakukan isolasi mandiri dan memberi bantuan sembako," kata Sigit.

Selain itu Polri juga membuat manajemen penjagaan, manajemen tracing, sehingga cepat terdeteksi dan laju pertumbuhan corona di masyarakat dapat dicegah.

"Di Kudus PCR-nya baru keluar 5 hari ini terjadi keluar ledakan, sehingga pengorganisasian jadi lemah kami terpaksa turun. Kami mempersiapkan mobil lacak dan ambulans kendaraan pengangkut pasien," jelas Sigit.

"Bagaimana kita melaksanakan evakuasi di wilayah yang terjadi dalam 1 rt/rw, ini sering terjadi di wilayah-wilayah ada masyarakat yang tak mau dipisahkan dari anggota keluarga. Sehingga butuh cara-cara yang kita arahkan ke isolasi mandiri ke tempat pusat isolasi. Jangan sampai laju COVID-19 di Indonesia mengkhawatirkan," sambungnya.

sumber: kumparan.com