Siantar, Hetanews.com - Majelis hakim Pengadilan Negeri Pematangsiantar, Derman Nababan, Rahmat Hasibuan dan M Iqbal Purba menjatuhkan vonis 10 tahun denda Rp.1 Milyar subsider 3 bulan penjara kepada terdakwa Rita Haryati Siregar (44). Putusan hakim dibacakan dalam persidangan terbuka untuk umum, Rabu (9/6) di Pengadilan Negeri Pematangsiantar yang digelar secara virtual.

Meski vonisnya sudah diringankan hakim dari tuntutan jaksa, terdakwa Rita tidak terima dan mengajukan banding melalui pengacaranya, Gusti Ramadhani. Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar pasal 114 (2) UU RI No.35/2009 tentang peredaran narkotika.

Sebelumnya, jaksa Firdaus Maha SH pada Kejaksaan Negeri Pematangsiantar menuntut pidana penjara selama 15 tahun denda Rp.1 Milyar subsider 6 bulan penjara. Karena terdakwa sudah pernah dipidana (residivis) dalam kasus yang sama.

Itu menjadi salah satu hal yang memberatkan Rita, karena tidak menyesali perbuatannya. Sejak awal persidangan, terdakwa terus membantah sehingga mempersulit proses persidangan. 

Faktanya, wanita beralamat ganda ini di jalan Lokomotif Kelurahan Melayu Siantar Utara dan beralamat di jalan Musa Sinaga Desa Rambung Merah Simalungun itu diamankan pada 23 Desember 2020 lalu di rumah Rita di jalan Lokomotif.

Rita sudah menjual sabu kepada Faisal Tanjung (disidangkan terpisah) sebanyak 4 kali. Hal itu dikatakan Faisal dalam persidangan sebelumnya (saat memberikan kesaksian). Faisal Tanjung merupakan anggota Polri yang turut diamankan di rumah Rita. 

Barang bukti yang disita berupa sepaket narkotika jenis sabu, tas sandang warna hitam berisi uang sebesar Rp.4.000.000, Hp merk Nokia. Juga 39 dan 1 plastik klip besar berisi sabu dari dekat jendela kamar.  

Sedangkan dari rumah Rita di Jl. Musa Sinaga Gg. Swadaya Kel. Pematang Simalungun Kec. Siantar Kab, Simalungun, disita sebuah boneka yang didalamnya sebuah plastik biru berisi botol plastik dilakban hitam berisi 14 paket narkotika jenis sabu.

Barang bukti sabu dirampas untuk dimusnahkan. Sedangkan uang Rp 4 juta dirampas untuk negara.