Oleh: Zeevanyasuci

Mati rasa tidak pernah terjadi secara tiba-tiba, apalagi jika ini dialami oleh seorang istri, suami merasa semua berjalan normal, namun tiada angin tiada hujan tiba-tiba: boom! Istri minta pisah.

Apakah ini pertanda istri punya lelaki lain? Belum tentu, jangan selalu menyalahkan pihak ketiga pada matinya hati dan hambarnya rasa, sekali lagi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebuah proses yang tidak disadari menggerogoti perkawinan dari dalam.

Istri yang merasa selalu berkorban dalam rumah tangga, dan pengorbanan itu tidak dihargai oleh suaminya, Istri yang merasa tidak memiliki kesetaraan dalam rumah tangga, Hanya suami yang boleh memegang uang, sementara istri tidak, Hanya suami yang boleh punya me time, sementara istri tidak, Hanya suami yang bisa membuat keputusan, sementara istri tidak dilibatkan.

* Istri yang merasa sendirian mengurus semua urusan anak dan rumah tangga

* Istri yang tidak didengar keluh kesahnya.

* Istri yang terlalu banyak dituntut.

* Istri yang merasa timpang dalam hubungan seksual.

* Istri yang merasa tidak dihargai oleh mertua dan keluarga besar suami.

* Istri yang merasa tidak dicintai.

* Istri yang merasa asing dalam rumah tangga nya 

* Istri yang merasa butuh perhatian dan kasih sayang dalam rumah tangga nya 

Semua ini rentan sekali mematikan hati, tidak ada variabel orang ketiga di dalamnya, tapi untuk mengembalikan rasa kembali utuh, sepertinya terlalu melelahkan untuk ditempuh.

Lambat laun, terngiang-ngiang kalimat  ini: "Hidup cuma sekali, lantas untuk apa membersamai orang yang tidak bisa membahagiakan diri?"

Di sisi lain, suami yang kaget bukan kepalang pun membela diri, Apa yang salah darinya, ia ayah yang bertanggung jawab, ia tidak selingkuh, ia pekerja keras, mengapa istrinya bisa mati rasa?

Sekali lagi, hati yang mati sudah melalui beragam proses dan waktu, jangan lihat sedalam apa sebuah luka, tapi lihatlah apa yang bisa dilakukan untuk setidaknya tidak membuat luka itu semakin dalam.

Pernikahan akan bertahan, selama kedua belah pihak masih sama-sama menginginkan kebersamaan, hati yang mati masih bisa diobati, tapi belum ada obat yang manjur untuk keinginan yang sudah mati, selamat berjuang untuk suami-suami yang berusaha menghadirkan lagi cinta di hati istri. [*]