SIMALUNGUN, HETANEWS.com – Banjir bandang yang menyapu kayu serta bebatuan yang terjadi di Parapat pada bulan lalu bukan merupakan banjir pertama kali yang melanda Parapat. Diketahui sudah beberapa kali terjadi banjir yang mengakibatkan kerugian yang tak sedikit.

Pengamat Lingkungan Hidup, Marandus Sirait saat diwawancarai oleh wartawan hetanews.com melalui via telepon pada Jum’at (4/6/2021), menjelaskan terjadinya banjir bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, akan tetapi ada faktor pendorongnya.

“Banjir tentu pertama karena hujan, tapi mau hujan deras pun kalau ekosistem bagus biasanya alam akan menetralisir hujan. Tapi dengan mata memandang tanpa penelitian pun, memang di situ (hutan) sudah pada gundul, sudah dipakai untuk pemukiman dan ladang-ladang di atas, ya resikonya itu. Jadi manusia itu sendiri yang buat dirinya susah,” terangnya.

Baca: Banjir Bandang Menerjang Parapat, RHS: Saya Bukan Ahlinya

Pemerintah memang sudah menemukan solusi untuk mengantisipasi banjir tersebut, namun menurut Marandus hal tersebut tidak akan efektif jika tidak diperhatikan lebih lanjut lagi.

“Pemerintah dan orang yang tinggal disitu seharusnya sadar akan pentingnya hutan dan jangan dijadikan ladang yang kemiringan seperti itu. Seharusnya yang ditanam di sana adalah kayu yang menghasilkan buah-buah, seperti durian, kemiri, kayu manis, bukan kayu yang untuk ditebang. Karena ditebangilah itu dulu, gak ditanam lagi tapi malah diladangi, jadi pasti itu penyebabnya,” tambah Marandus dengan yakin.

Pria yang mengenalkan andaliman ke ranah Internasional itu menambahkan bahwa ada cara yang murah dan efektif untuk memperbaiki ekosistem di hutan Parapat.

Baca: Pentingnya Peran Masyarakat Adat Dalam Pemulihan Lingkungan di Danau Toba

“Ada tanaman yang bisa ditanam di sana, alasannya tidak ditanam karena saya tau itu murah biayanya. Tidak bisa dijadikan proyek. Karena bibitnya tak perlu dibeli. Kaliandra namanya. Kenapa masyarakat tanam kaliandra di jurang-jurang itu, karena ditanam satu tumbuh seribu kalau yang biasa ditanam itu ditanam seribu belum tentu bisa jadi satu. Tak perlu dirawat pun tumbuh,” ujarnya lagi.

Sebagai pengamat lingkungan hidup, Marandus menyarakan kepada pemerintah dan warga setempat untuk lebih memperhatikan lingkungan disekitar terutama hutan tersebuthal tersebut membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah maupun masyarakat setempat.

“Saran saya jangan ketika sudah terjadi bencana baru rebut memperbaiki satu bulan, tapi begitu ditanami satu bulan lupa dan pohon yang ditanam gak diurus. Jangankan hutan rakyat, hutan llindung pun tak dilindungi lagi. Sia sia danau toba ini kalau hutannya gak di jaga karena danau toba wisata alam. Kalau gak di jaga hutan itu muncul terus lah bencana demi bencana gitu aja terus,” tutup Marandus.

Baca: Banjir Bandang di Parapat Siapa yang Bertanggung Jawab?