SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Persoalan sapi ternyata sudah menjadi persoalan klasik bagi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, dari beberapa Unit Kebun yang ditemui hetanews ternyata persoalan sapi salalu menjadi persoalan klasik, yah memang hal ini menjadi persoalan yang sangat sulit dipecahkan, sebab satu sisi pihak perkebunan harus meningkatkan jumlah produksi kelapa sawit, namun di satu sisi Sapi merupakan komiditi masyarakat yang membantu perekonomian masyarakat.

Namun hal itu bukan tanpa diberikan kelonggaran bagi PTPN IV, mereka memberikan kelonggaran kepada masyarakat agar mengembalakan sapinya di tanaman yang umurnya lebih dari 10 Tahun, bahkan mereka sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui pertemuan dan surat edaran.

"Kami sudah memberikan surat edaran kepada masyarakat dan melakukan pertemuan bersama Camat, Pangulu bahkan pihak Kepolisian, agar masyarakat dalam mengembalakan sapinya tidak berada di Tanaman yang umurnya kurang dari 10 Tahun, namun yang terjadi dilapangan banyak sapi yang masih berkeliaran di tanaman muda itu,"sebut Mandor satu Unit Kebun Marihat Elijon Girsang, Rabu (02/06/2021)

Bahkan kata Elijon Girsang, beberapa tempat mereka sudah buat plang "Dilarang Masuk, Awas Racun", namun masih saja masyarakat mengembalakan sapinya ditempat tersebut.

"Makanya kalau ada sapi mereka yang mati kami tidak bertanggung jawab, karena memang kami sudah mengingatkan sejak awal dan untunglah di tempat kita jika ada sapi yang mati sejauh ini belum ada masyarakat yang melakukan protes kepada kita,"ucapnya.

Diceritakan Elijon jika sapi-sapi terebut memasuki tanaman muda Kelapa Sawit, maka akan berdampak nantinya kepada hasil produksi sapi, karena ketika Kelapa Sawit tersebut masih muda, maka sapi-sapi itu akan memakan daun-daun Kelapa Sawit yang sebenarnya daun tersebut dibutuhkan untuk fotosintetis bagi kelapa sawit.

"Kan kalau masih muda, daun-daun itu masih bisa dijangkau sama sapi, nah dampaknya kepada pembakaran makanan bagi Kelapa Sawit, sehingga membuat nantinya hasil produksi Kelapa Sawit menurun,"jelasnya.

Berbagai cara sudah dilakukan oleh Unit Kebun Marihat, namun hal tersebut sepertinya tidak diindahkan oleh masyarakat.

"Kita sudah lakukan penghimbauan melalui sosialisasi dan surat edaran, kita sudah buat parit-parit pembatas, kita sudah buat plang, yah tetap aja dimasuki sapi, memang kita pernah lakukan tindakan preventif tapikan ada banyak hal yang juga kita pikirkan,"ucapnya.

Ditanya apakah masyarakat sekitar sebagai pemilik sapi, atau malah hanya sebagai pengambala sapi saja, yang sebenarnya sapi-sapi tersebut dimiliki oleh oknum-oknum pejabat Negara?, Elijon menyebutkan jika sapi-sapi yang terdapat di Unit Kebun Marihat hampir seluruhnya adalah milik masyarakat.

"Memang disini sapi-sapi itu milik masyarakat, paling satu dua saja milik oknum-oknum itu,"katanya.