Simalungun, hetanews.com - Persoalan sapi-sapi yang berkeliaran di areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV menjadi persoalan klasik yang sulit untuk ditertibkan.

Dimana satu sisi mereka harus menekan jumlah sapi yang telah menjadi hama tanaman, namun di satu sisi persoalan kearifan lokal menjadi tantangan bagi PTPN IV untuk menertibkan sapi-sapi tersebut, belum lagi adanya keterlibatan pemilik sapi yang merupakan pejabat-pejabat Negara yang melakukan penekanan terhadap PTPN IV. 

Seperti cerita salah satu Asisten Personalia Kebun (APK) PTPN IV Unit Kebun Gunung Bayu Bill Siagian, Jumat (28/05/2020), dia menceritakan bahwa di areal Unit Kebun Gunung Bayu ini sangat sulit menertibkan sapi yang memasuki areal perkebunan. 

"Kita sudah buat berbagai upaya dari parit-parit pembatas sampai kawat berduri, tapi yah selalu saja bisa dimasuki sapi-sapi itu, " Ucapnya. 

Masih kata Bill, mereka sampai saat ini belum melakukan tindakan preventif, mereka masih melakukan tindakan persuasif kepada warga. 

"Yah kita sejauh ini hanya menghimbau agar mereka tidak memasuki areal tanam muda kita, kan kita memiliki areal sebesar 8470,53 Ha, nah areal tanaman muda kita sebesar 823 ha, makanya kita menghimbau kepada masyarakat agar areal 823 Ha itu tidak diganggu oleh sapi, " Ucapnya.

Bill juga menyebutkan mereka tidak melakukan tindakan preventif terhadap sapi-sapi tersebut karena mempertimbangkan peternakan sapi merupakan salah satu penghasilan warga, namun Bill tidak memungkiri banyak dampak negatif akibat dari sapi-sapi tersebut. 

"Kalau ditanya dampak negatifnya cukup banyak, dari Kotorannya saja bisa menghasilkan bakteri konoderma atau jamur, yang bagi akar serabut seperti kelapa sawit sangat rentan terhadap jamur,"katanya

" Kenapa kita sengaja menumbuhkan rumput-rumput atau tumbuhan lain, agar bakteri yang dari bawah tidak langsung ke atas pohon, jadi bakteri itu punya makanan di bawah pohon, nah kalau rumput-rumput ini dimakan oleh sapi, yah bakterinya langsung ke atas pohon, "jelasnya.

Akibat dari hal tersebut kata Bill, berdampak pada hasil produksi dari pokok kelapa sawit. 

" Biasanya kalau pohon tersebut dalam massa produktif bisa menghasilkan 1 buah sampai 50 ton, karena terkena bakteri tadi yah jadi 20 ton, "sebutnya.