JAKARTA, HETANEWS.com - Dua tentara Indonesia tewas dalam serangan yang dituduhkan pihak berwenang pada Rabu (19 Mei) pada kelompok pemberontak Papua, karena ketegangan yang meningkat baru-baru ini di wilayah bergolak itu menyebabkan sedikitnya selusin kematian di kedua belah pihak.

Pasukan keamanan Indonesia telah mengintensifkan tindakan keras militer di dataran tinggi Papua menyusul pembunuhan kepala intelijen provinsi oleh kelompok pemberontak pada akhir April.

Kematiannya membuat marah Jakarta yang secara resmi menunjuk separatis Papua sebagai "teroris". Kepala Menteri Keamanan Mahfud mengatakan kelompok pemberontak menewaskan dua tentara patroli di distrik Dekai di kabupaten Yahukimo pada hari Selasa.

"Serangan itu menunjukkan bahwa kelompok teroris terus melakukan kekerasan di Papua," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Empat aparat keamanan lainnya cedera dalam serangan terpisah pada hari yang sama di distrik Serambakon di Kabupaten Pegunungan Bintang, tambahnya.

“Pemerintah berkomitmen untuk menumpas kelompok-kelompok di Papua secara tuntas,” ujarnya.

Juru bicara kelompok pemberontak Sebby Sambom mengatakan pada hari Rabu bahwa gerakan separatis bertanggung jawab atas pembunuhan kedua tentara tersebut.

Setidaknya tiga tentara dan sembilan pemberontak tewas dalam serangan militer dan polisi setelah kematian kepala badan intelijen Papua pada 25 April, menurut pejabat Indonesia.

Separatis Papua telah mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhannya, dengan Presiden Joko Widodo bulan lalu memerintahkan pasukan keamanan untuk menindak pemberontak.

Pasukan keamanan Indonesia telah dirundung selama bertahun-tahun oleh tuduhan pelanggaran hak yang meluas terhadap penduduk etnis Melanesia di Papua, termasuk pembunuhan di luar hukum terhadap aktivis dan pengunjuk rasa damai.

Sebuah bekas koloni Belanda, Papua mendeklarasikan dirinya merdeka pada tahun 1961, tetapi tetangganya Jakarta mengambil kendali dua tahun kemudian menjanjikan referendum kemerdekaan. Pemungutan suara berikutnya yang mendukung tetap menjadi bagian dari Indonesia secara luas dianggap palsu.

Baca juga: Menko Polhukam: Pemerintah Memburu Para Teroris, Bukan Organisasi Papua

Sumber: straitstimes.com