MEDAN, HETANEWS.com - H Habib Nasution kini sudah cukup sepuh. Usianya menginjak 81 tahun. Di tengah hari tuanya, Habib Nasution yang merupakan atlet renang legendaris ini justru terpaksa masuk jeruji besi.

Dia didakwa melakukan pemalsuan surat terkait jual beli rumah toko (ruko) di Jalan Masjid, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat.

Saat menghadiri sidang vonis di Pengadilan Negeri (PN) Medan, lelaki yang pernah menyabet dua medali perunggu di ajang Asian Games III tahun 1958 di Tokyo ini tampak jalan terbungkuk-bungkuk. Habib Nasution membawa tongkat untuk sekedar menopang tubuhnya.

Saat mendengarkan putusan hakim, lelaki yang pernah mengharumkan nama Sumatera Utara di kancah dunia ini terlihat serius menatap hakim. Namun, karena faktor usia, Habib Nasution tidak begitu paham dengan isi putusan yang dibacakan hakim ketua Ali Tarigan.

"Apakah saudara mengerti dengan putusan ini," tanya hakim, Senin (17/5/2021).

Menjawab pertanyaan itu, lelaki yang tinggal di Jalan Setia Budi, Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang ini sempat diam sejenak. Dia kemudian mengaku kurang begitu paham dengan seluruh uraian putusan tersebut. 

"Belum paham kali pak," katanya dengan suara lirih.

Meski mengaku tak paham, hakim memberi Habib Nasution waktu tujuh hari untuk menentukan langkah hukum terhadap putusan hakim. Dalam sidang tersebut, Habib Nasution dijatuhi hukuman satu bulan penjara.

Lelaki yang pernah menempati peringkat ke 7 dalam olimpiade Melbourne 1965 itu dianggap terbukti melakukan pemalsuan sebagaimana Pasal 385 ayat (1) KUHPidana.

"Melakukan tindak pidana dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan credietverband sesuatu hak tanah yang belum bersertifikat, sesuatu gedung, bangunan, penanaman atau pembenihan diatas tanah yang belum bersertifikat, padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau turut mempunyai hak diatasnya  adalah orang lain," kata hakim dalam amar putusannya.

Namun, vonis hakim ini beda tipis dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho. Sebelumnya, jaksa meminta agar hakim menjatuhi lelaki yang pernah mencatat rekor nasional selama 14 tahun itu dengan hukuman dua bulan penjara. 

Dalam dakwaan jaksa disebutkan, kasus yang mendera Habib Nasution ini berawal dari permasalahan kepemilikan satu unit ruko di Jalan Masjid Nomor 43 Medan, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.

Adapun alas hak ruko tersebut berupa surat Grant C. Menurut JPU, terdakwa Habib Nasution ini adalah anak kandung dari almarhumah Sapinah. Sementara saksi korban DR TA King Ho anak dari mendiang TA Sing Heng.

Antara orangtua terdakwa dan korban sama-sama mengelola ruko yang sama. Sepeninggalan almarhumah Sapniah, pengelolaan ruko dilanjutkan oleh Habib Nasution. Dia bekerjasama dengan DR TA King Ho.

Dalam perjalanannya, ruko itu disewa Tiang Sing Ming sejak tahun 1992. Setelah Tiang Sing Ming meninggal, sewa ruko dilanjutkan oleh Ting Lie Hong (berkas terpisah). Ting Lie Hong adalah anak dari Tiang Sing Ming.

Belakangan, setelah berjalannya waktu, ruko tersebut dijual oleh Habib Nasution kepada Ting Lie Hong tanpa sepengetahuan DR TA King Ho. Ruko itu dijual pada 7 Juli 2014 seharga Rp 200 juta pada Ting Lie Hong.

Setelah dicek, surat-surat ruko itu diduga telah dipalsukan oleh Habib Nasution. Atas dasar itupula, Habib Nasution dilaporkan bersama Ting Lie Hong. Karena perbuatan Habib Nasution, DR TA King Ho mengalami kerugian Rp 1,6 miliar.

Sumber: tribunnews.com