SIMALUNGUN, HETANEWS.com - LSM Jendela Toba menyebut banjir dan longsor di Huta Sualan dan daerah pariwisata Parapat dipicu akibat kerusakan alam di perbukitan. 

Peristiwa ini dianggap berdampak bagi kondisi pariwisata, apalagi kejadiannya saat perayaan Idul Fitri dan perayaan kenaikan Isa Almasih.

Ketua LSM Jendela Toba, Mangaliat Simarmata melalui keterangan tertulis, Jumat (14/5) mengatakan, pemerintah sejauh ini hanya melakukan pembersihan pasca longsor terjadi. Padahal peristiwa longsor di Huta Sualan sudah berulang terjadi.

"Lantas, bagaimana pembenahan hulu dan hutannya sebagai sumber banjir dan longsornya, sepengetahuan saya sampai saat ini belum dijamah atau ditangani," kata Mangaliat. 

Pihaknya mendorong pemerintah untuk menangani dan mencari tahu penyebab banjir dan longsor. Hal itu perlu dilakukan dengan profesional agar peristiwa tersebut tidak terulang.

Baca: Radiapoh Terjun Ke Parapat, Ada Rencana Bangun Tembok

Dia mengatakan selain jalan trans Sumatera,daerah pariwisata Parapat merupakan pintu gerbang utama ke Kawasan Danau Toba [KDT] yang sudah ditetapkan pemerintah.

"Kita mengharapkan agar pemerintah daerah dan pusat memberikan perhatian ke Parapat, dimana parapat salah satu tempat kunjungan para wisatawan lokal dan mancanegara,” jelasnya. 

Warga Parapat diminta tetap waspada sebab bencana banjir sewaktu waktu dapat terjadi. Namun ia berharap bencana tidak terulang.

Menurut Sekretaris PHRI Simalungun, Rahimal K Noor, saat ini warga benar-benar sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten untuk menuntaskan permasalahan banjir di Parapat.

Pasca peristiwa itu, kata Rahimal, banyak pihak beretorika namun tidak menyelesaikan masalah sesungguhnya.

“Semuanya terkesan seperti lips service, termasuk tentang kasus perambahan hutan yang tidak pernah ada solusi dan jalan keluarnya,” tutup Rahimal.

Penulis: Kontributor Toba, Feri

Baca: Cerita Korban Banjir Parapat: Pegunungan Sudah Gundul