HETANEWS.com - Lutz Pfannenstiel bisa dibilang pemain sepak bola dengan perjalanan paling mengasyikkan. Bagaimana tidak, penjaga gawang asal Jerman itu pernah melancong ke 13 negara selama kariernya.

Lutz telah menunjukkan potensinya sejak remaja di mana ia dipercaya menjaga jala Timnas Jerman U-17. Pada usia 19 tahun, ia mendapat tawaran dari Bayern Muenchen yang kemudian ditolak.

Keputusan Lutz justru lebih mengejutkan lagi. Pada 1993, ia meninggalkan klub pertamanya, FC Bad Kotzting, dan melancong jauh ke Malaysia, bergabung dengan Penang FA.

Setahun di Asia membuat reputasi Lutz menanjak. Ia kemudian pindah ke Inggris, bermain untuk salah satu klub yang bersaing di Liga Premier, Wimbledon.

Bertahan satu musim di Wimbledon, Lutz kemudian pindah ke Nottingham Forest, sebelum terbang lagi ke klub Afrika Selatan, Orlando Pirates, untuk menjalani masa pinjaman.

Lutz Pfannenstiel.
Foto: Alex TAN / AFP

Pada 1997, petualangannya membawa Lutz ke Finlandia di mana ia bermain untuk TPV dan FC Haka. Selanjutnya, ia kembali ke Jerman dan bermain untuk SV Wacker Burghausen di Jerman, Januari 1999.

Akan tetapi, reuni dengan kampung halamannya tak berlangsung lama. Hanya selang beberapa bulan, Lutz kembali terbang ke Asia usai menandatangani kontrak dengan klub Singapura, Geylang United.

Karier Lutz tidak selalu berjalan mulus. Dia berpindah-pindah karena pemecatan atau klub yang dibelanya bangkrut. Ia bahkan pernah ditelanjangi dan ditinggalkan di selokan oleh rekan-rekannya di Wimbledon, 1994 silam,

Memasuki 2000-an, Lutz dijatuhi hukuman penjara di salah satu penjara paling gila di dunia karena diduga terlibat dalam pengaturan pertandingan.

101 hari di balik jeruji besi ini menjadi salah satu titik terendah dalam hidupnya. Lutz bahkan mau mengakhiri hidupnya usai melihat segala sesuatu yang ada di penjara.

Lutz Pfannenstiel.
Foto: Instagram/@lutz.pfannenstiel

Lutz nampaknya tak bisa lepas dari petualangan aneh yang mengikutinya ke setiap sudut planet ini. Di Selandia baru, ia dilaporkan memburu seorang pencuri yang menyolong salah satu pakaiannya.

Kemudian, entah bagaimana caranya Lutz menemukan waktu yang cukup luang dan celah yang bisa dimanfaatkan untuk menculik seekor penguin dari kebun binatang setempat untuk menyimpannya di bak mandi.

Pada Boxing Day 2002, Ia kembali ke Inggris, menjalani masa pinjaman untuk Bradford Park Avenue yang bersaing di Northen Premier League. Kala itu, klubnya melawan Harrogate Town di mana Lutz coba melakukan penyelamatan namun berujung menubrukkan dadanya ke lutut striker Clayton Donaldson.

Tabrakan itu membuatnya tak bisa bernapas. Lutz sempat dinyatakan meninggal hingga akhirnya berhasil dihidupkan kembali oleh fisioterapis Bradford Park Avenue. Lutz kemudian merayakan keselamatannya itu dengan melakukan hal yang paling ia sukai, yakni berkeliling dunia dan pindah klub.

Lutz Pfannenstiel.
Foto: Instagram/@lutz.pfannestiel

Berikutnya, ia pindah ke Heddersfield Town yang kemudian kembali lagi ke Jerman dan bergabung dengan ASV Cham. Tak sampai setahun bertahan di satu klub, ia akan mencari tempat baru.

Begitu terus berlanjut hingga Juli 2011 di mana Lutz akhirnya menghentikan perjalanannya di Rmablers. Ia menggantungkan sarung kipernya di klub Namibia itu. Sepertinya, Lutz tidak puas hanya bermain. Ia kemudian mengisi posisi ofisial tim seperti manajer klub, pelatih penjaga gawang, dan direktur teknis.

Pekerjaan yang disebut belakangan memungkinkan Lutz bekerja dengan banyak klub, termasuk Tim Nasional Kuba dan Namibia. Sejak gantung sepatu, Lutz menuangkan kisahnya ke dalam sebuah otobiografi dengan judul "The Incredible Adventure of The Unstoppable Keeper".

Sumber: kumparan.com