SIANTAR, HETANEWS.com - Hamzah bin Abdul Muthalib berusia 2 tahun lebih tua dibandingakan nabi Muhammad. Beliau lahir di Mekah pada tahun 568 M. (Bewley, 2013).

Ayah beliau adalah Abdul Muthalib bin Hashim bin Abd Manaf bin Qusayy. dan ibunya adalah Halah bin Wuhayb. Beliau wafat menjadi syuhada pada pada saat terjadinya perang Uhud pada 22 Maret 625 M (3 Syawal 3H).

Hamzah mendapat gelar Assad Allah (Singa Allah) dan Assad Al-Jannah (Singa Surga) karena beliau sangat berjasa mengalahkan kaum kaf*r Quraisy di perang Badar.

LATAR BELAKANG HAMZAH

Hamzah bin Abdul Muthalib, paman nabi yang satu ini dikenal luas di masyarakat Arab sebagai pemuda cerdas. Ia sering menyendiri berburu di padang pasir, oleh karenanya ia sering jadi incaran penjahat di Padang Pasir yang sepi. Tapi jika disebut namanya, siapapun dan berapapun jumlah penjahat yang akan merampoknya, akan lari tunggang langgang.

Nama Hamzah bin Abdul Muthalib terkenal setelah beliau berhasil membunuh singa, tubuh singa itu dikuliti dan diletakan di pelana kuda. Sejak saat itu beliau mendapat julukan singa padang pasir. (Ishaq, 1955)

HAMZAH SAAT NABI MUHAMMAD BERDAKWAH

Sebagai putra Abdul Muthalib beliau sangat peduli dan menyayangi nabi Muhammad SAW. Ia sangat paham pada rasulullah sejak kecil karena hanya terpaut 2 tahun. Walaupun Hamzah belum masuk islam, Hamzah sangat melindungi dakwah Nabi Muhammad SAW. Jika keponakannya (nabi Muhammad SAW) disakiti, beliau akan bertindak.

Pada tahun 612 M, pernah satu waktu, Abu Jahal menghina dan mencaci maki nabi Muhammad SAW dengan keji. Hamzah langsung murka dan bertindak dengan menghajar Abu Jahal sampai berdarah. Setelah peristiwa itu, Hamzah masuk rumah Al-Arqam dan secara mengejutkan beliau mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia sudah mantap untuk masuk islam (Bewley, 2013:3)

Dengan masuk islamnya Hamzah, umat islam memiliki pelindung. Hamzah menjadi tameng kaum muslimin atas serangan kafir Quraisy.

Hamzah juga mengarahkan orang-orang luar Mekah yang ingin memeluk islam.

KEHIDUPAN HAMZAH DI MADINAH

Hamzah ikut hijrah (emigrasi) dari Mekah ke Madinah tahun 622 M bersama kaum muslimin lainnya. (Ishaq, 1955: 324)

Hamzah ditunjuk sebagai salah satu komandan perang di perang Badar (2 H/628 M. Hamzah berhasil membunuh orang yang paling membenci nabi Utbah bin Rabiah (ayah Hindun), paman dan adik Hindun.

Setelah itu ia dijuluki singa Allah dan Rasulnya. Orang Quraisy, terutama Hindun menganggap bahwa Hamzah-lah yang menjadi penyebab kekalahan Quraisy atas kaum muslimin di perang Mekah.

Hindun sangat marah pada Hamzah dan berjanji akan menuntut balas kematian ayah, paman dan adiknya.

SYAHIDNYA SINGA ALLAH DAN RASULNYA

Pada tahun 3 setelah Hijrah. Umat islam Madinah berhadapan lagi dengan kaum kafir Quraisy di perang Uhud. Hamzah bin Abdul Thalib dan Nabi Muhammad menjadi incaran untuk dibunuh.

Saat perang berlangsung, Hamzah dengan gagahnya berhasil membunuh 30 Quraisy. Namun kaum muslimin yang ditugaskan memanah malah tergiur harta rampasan perang yang membuat muslimin terdesak.

Wahsyi diam-diam mengincar dari kejauhan. Hamzah jadi bidikan tombak wahsyi. Saat Hamzah lengah, tombak Wahsyi menghantam badan Hamzah. Tombak begitu dalam melukainya.

Akhirnya Hamzah tersungkur dan meninggal sebagai syuhada bersama dengan 70 orang muslim yang lainnya. Perang Uhud dimenangkan oleh kaum Quraisy Mekah.

Setelah perang, tubuh Hamzah dimutilasi oleh Hindun, organ hati Hamzah, dikunyah oleh Hindun namun dimuntahkan kembali.

Air mata Rasulullah meneteskan melihat tubuh Hamzah yang dimuttilasi. Rasulullah sangat sedih dengan merosotnya moral orang Arab yang dengan tega memutilasi jasad korban perang.