SIANTAR, HETANEWS.com - Ramadan selalu disambut penuh suka cita oleh umat Islam. Bulan yang paling ditunggu ini menjadi momen istimewa untuk dirayakan. Tiap daerah memiliki tradisi dan keunikan tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Di berbagai daerah di Indonesia, Ramadan disambut dengan sejumlah aktivitas. Kegiatan-kegiatan ini menjadi tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi menyambut Ramadan di Indonesia berinti pada mensucikan diri, saling bermaafan, dan menjalin silaturahmi.

Punggahan - Sumatera Utara

Punggahan merupakan tradisi menyambut Ramadan di Sumatera Utara. Punggahan berarti naik artinya, tradisi ini diharapkan mampu menaikkan derajat manusia ketika menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Tradisi punggahan dilakukan berbeda di tiap daerah di Sumatera Utara. Labuhanbatu Utara misalnya, masyarakat biasanya akan membawa makanan dan berkumpul bersama menyantapnya di masjid. Di Batubara, punggahan dirayakan dengan menyembelih ternak jenis kerbau atau lembu mulai 32 hari sebelum hari pertama Ramadhan.

Dilansir dari laman IAIN Salatiga, Tradisi Punggahan hingga kini masih dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat Sumatera Utara. Selain karena untuk menghormati tradisi yang sudah ada, Tradisi Punggahan juga memiliki nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan, terutama dalam kehidupan bermasyarakat.

Meugang - Aceh

Meugang merupakan tradisi menyembelih kambing atau sapi yang dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu pada Ramadan, Idul Adha, dan Idul Fitri. Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke mesjid untuk makan bersama keluarga, kerabat, tetangga, atau yatim piatu.

Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang. Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadan. Meugang dimulai sejak masa Kerajaan Aceh (1607-1636 Masehi).

Nyadran - Jawa

Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta melakukan tradisi nyadran. Tradisi ini juga dikenal sebagai ruwahan. Nyadran adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Nyadran diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa, atau pada 15, 20, dan 23 Ruwah.

Biasanya nyadran dilakukan dengan membersihkan makam orang tua atau keluarga lalu mendoakannya. Masyarakat yang melakukan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci. Bukan hanya hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur. Setelah nyadran biasanya ada acara kenduri atau makan bersama.

Padusan - Jawa

Di Jawa ada juga tradisi padusan untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi unik ini merupakan kegiatan mandi dengan niat membersihkan atau menyucikan diri sebelum datangnya bulan Ramadan. Padusan biasanya dilakukan di tempat-tempat seperti pantai, sungai ataupun sendang.

Ketika tradisi padusan, orang akan berbondong-bondong ke sebuah tempat pemandian untuk mandi dan berendam. Mereka percaya air bisa menyucikan diri dalam rangka menyambut bulan Ramadan.

Malamang - Sumatera Barat

Malamang merupakan tradisi di Sumatera Barat yang dilakukan dengan memasak lemang yang terbuat dari penggabungan antara beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Tradisi ini bertujuan sebagai sarana berkumpul dan mempererat tali silaturahmi sambil menyambut datangnya bulan Ramadan.

Malamang harus dikerjakan oleh banyak orang. Pasalnya, ada beberapa langkah yang harus dilakukan seperti mencari bambu sebagai tempat adonan lemang, mencari kayu bakar untuk memanggang lemang, serta mempersiapkan bahan pembuatan lemang. Jadi diperlukan kerjasama dalam proses membuat lemang ini.

Nyorog - Betawi

Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Nyorog dilakukan dengan membagikan berbagai bingkisan seperti sembako, ikan bandeng dan daging kerbau kepada sanak keluarga. Bingkisan nyorog biasanya juga bisa berupa makanan khas Betawi seperti sayur gabus pucung.

Tujuan dari nyorog adalah untuk mengingatkan bahwa bulan Ramadan akan segera datang dan Ramadan merupakan ajang untuk saling silaturahmi.

Suru Maca - Bugis-Makassar

Di Sulawesi Selatan, terutama suku Bugis-Makassar ada ritual 'Suru Maca' yang menjadi tradisi sebelum memasuki bulan puasa. Suru Maca yang berarti membaca doa secara bersama untuk dikirimkan kepada leluhu. Biasanya, ritual Suru Maca dilakukan tepat sepekan memasuki bulan suci Ramadan. Dengan menyajikan beragam kuliner khas suku Bugis-Makassar yang diletakkan di lantai dan biasanya juga di atas ranjang tidur.

Ulama atau tokoh agama kemudian membaca doa dan ayat-ayat Al-Qur'an. Setelah pembacaan doa selesai, para keluarga yang menggelar ritual tersebut kemudian menyantap masakan yang telah didoakan. Makanan yang biasanya disediakan dalam ritual Suru Maca itu diantaranya opor ayam, ayam goreng tumis, serta nasi ketan dua warna, yakni ketan putih maupun hitam serta gula merah yang telah dicairkan atau akrab disebut songkolo palopo.

Ritual menjelang Bulan Ramadan ini sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Bugis-Makassar yang sampai saat ini masih terus terjaga.

Megibung - Bali

Megibung Megibung merupakan tradisi warga Karangasem, Bali untuk menyambut bulan Ramadan. Megibung merupakan kegiatan makan bersama, dilakukan dengan beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran, dimana nasi telah tersedia beserta lauk pauknya di atas nampan. Satu kelompok tersebut dinamakan satu sela.

Acara makan-makan ini diselingi dengan obrolan obrolan ringan. Satu porsi nasi megibung biasanya dinikmati oleh delapan orang atau bisa juga oleh empat orang.

Batahlil - Ternate

Batahlil merupakan tradisi menyambut bulan Ramadan di Ternate. Batahlil dilakukan dengan berziarah ke makam orang tua atau keluarga. Setelah ziarah, dilakukan doa bersama bersama keluarga atau kerabat dekat di rumah. Usai berdoa, tuan rumah biasanya memberikan nasi kuning atau kue untuk dibawa pulang.

Bakar Batu - Papua

Di Papua, seperti di Jayapura umat Muslim menyambut Ramadan dengan tradisi bakar batu. Disebut Bakar Batu karena batu dibakar hingga panas lalu ditumpuklah bahan makanan seperti daging ayam, kambing, sapi, dan umbi-umbian. Tumpukan makanan ini kemudian ditutup lagi dengan batu panas hingga matang. Tradisi bakar batu dilakukan sebagai bagian dari kegiatan silaturahmi dan saling memaafkan sebelum Ramadan tiba.