JAKARTA, HETANEWS.com - Baru juga sebulan saya menulis Dongkol Sedongkol-dongkolnya karena KPK Setop Kasus BLBI, hari ini saya sudah dibikin dongkol lagi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Novel Baswedan sang penyidik bakal dipecat KPK hanya gara-gara ia tidak lolos tes ASN (aparatur sipil negara). Bukan cuma Novel tapi "orang-orang baik" di KPK. Jumlahnya seratusan.

Konteks: Tes ASN yang konon menjadi "tolok ukur kadar kebangsaan seseorang" menjadi hal yang wajib di Undang-Undang KPK yang baru (hasil revisi UU KPK yang dulu diprotes mahasiswa tapi enggak didengar itu).

Saya cukup mengenal KPK karena pernah bertahun-tahun liputan di sana. Dan polemik tes ASN-KPK ini menurut saya amat berbahaya karena di pundak orang-orang seperti Novel itulah harapan saya (atau harapan kamu, jika kamu berkenan) ditaruh.

Aneh banget menilai Novel dan orang-orang KPK sebatas dari hasil tes ASN. Bukankah lebih relevan menilai mereka dari apa yang sudah mereka perbuat untuk negeri ini.

Jangan lupa, kebanyakan mereka itu adalah orang-orang yang telah lulus tes Indonesia Memanggil. Jadi, tes ASN ini mengangkangi tes Indonesia Memanggil yang terkenal luar biasa susah (karena menyangkut integritas hati) itu.

  • Novel Baswedan Simbol Pemberantasan Korupsi

Sedikit bicara soal Novel. Buat saya Novel sudah menjadi simbol pemberantasan korupsi: Ia pernah memimpin tim mengusut korupsi jenderal polisi yang lantas memunculkan episode "Cicak versus Buaya".

Novel merepresentasikan orang-orang golongan menengah yang melawan hal-hal gak beres di golongan atasnya. Merepresentasikan KPK yang diharapkan publik.

Kontribusi Novel (dan orang-orang KPK yang baik lainnya) untuk KPK dan pemberantasan korupsi bagi negeri ini amat besar. Apa saja kasus-kasus yang berhasil diusutnya, kamu bisa googling.

  • Pengorbanan Novel Baswedan

Pengorbanan Novel bagi saya juga amat luar biasa. Pernah oleh polisi dia ditetapkan sebagai tersangka kasus yang banyak orang bilang "mengada-ngada".

Novel dimusuhi banyak pihak dan para pihak itu adalah mereka yang punya kekuatan.

Privasi seorang Novel Baswedan pun sudah tidak ada lagi. Rumahnya sudah jadi ladang operasi pihak-pihak yang ingin menyadap dan mengintai.

Pada 11 April 2017, Novel disiram air keras yang bikin matanya 95 persen buta.

Tapi si Novel ini ikhlas saja. Menyerahkan segala sesuatunya ke Allah jadi dia masih bisa fokus bekerja meskipun politik di KPK sudah di ambang gila. Atau mungkin sudah gila.

Novel hendak dipenjara, Novel ikhlas.

Novel dibikin buta, Novel ikhlas.

Tak ada yang sanggup membuat Novel menyerah dan berhenti jadi penyidik KPK.

Sampai kemudian ini: Novel Baswedan tidak (di)lolos(kan) tes ASN.

sumber: kumparan.com