SIANTAR, HETANEWS.com - Memperingati  World Press Freedom Day [Hari Kebebasan Pers Sedunia] yang diperingati tiap tanggal 3 Mei setiap tahunnya, diperingati oleh sejumlah Jurnalis di Kota Siantar. 

Sejumlah Jurnalis dari media cetak dan elektronik yang tergabung di Aliansi Jurnalis Independen [AJI] Kota Medan turun ke jalan membawa poster dan menyuarakan kondisi yang dialami pers nasional dan internasional. 

Redaktur Pelaksana Harian Siantar 24 Jam, Imran Nasution mengatakan, AJI memperingati Hari Pers Sedunia secara bersamaan di beberapa wilayah di Indonesia.

"Kita ingin menyuarakan stop kekerasan terhadap jurnalis dan beri kebebasan terhadap pers yang melakukan peliputan," kata pria yang sehati hari melakukan peliputan di Kota Siantar ini.

Baca juga: Utamakan Keterbukaan Informasi Dalam Penanganan Covid 19

World Press Freedom ini, lanjut Imran, sekaligus aksi solidaritas terhadap Jurnalis Tempo, Nurhadi yang belum lama ini mengalami kekerasan dari aparat saat melakukan peliputan.  

"Isu yang kita bawakan kali ini terkait dengan wartawan Tempo bernama Nurhadi yang mendapat kekerasan saat melakulan tugas peliputannya. Kita menolak dan melawan kekerasan terhadap jurnalis," lanjut Imran. 

Dalam rangka memperingati Hari Pers Sedunia, AJI Indonesia mengkampanyekan kebebasan Pers dengan tema ‘Let Journalist be Journalist’ [Biarkan Jurnalis Menjadi Jurnalis] secara nasional, digelar di 12 kota kabupaten di Indonesia.

Dikutip dari UNESCO, World Press Freedom Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 3 Mei. Tujuan peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional untuk merayakan hari kebebasan pers dunia, sekaligus menyuarakan perlindungan media dari ancaman atas kebebasan pekerja media.

Peringatan ini sekaligus untuk mengenang para jurnalis yang kehilangan nyawa dalam bertugas.

Sejarah Hari Kebebasan Pers Sedunia ini awalnya diproklamasikan oleh Sidang Umum PBB pada tahun 1993 menyusul Rekomendasi yang diadopsi pada sesi ke dua puluh enam Konferensi Umum UNESCO pada tahun 1991. 

Inti dari mandat UNESCO adalah kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. UNESCO percaya bahwa kebebasan ini memungkinkan adanya saling pengertian untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan.

Baca juga: AJI Desak Kepolisian Selesaikan Kasus Kekerasan Jurnalis