HETANEWS.com - Epidemiolog memperingatkan bahwa lemahnya pengawasan di bandara dapat membuat pandemi Covid-19 semakin sulit dikendalikan, apalagi memasuki masa mudik lebaran.

Pandu Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), mengatakan pengawasan yang lemah akan meningkatkan kemungkinan masuknya kasus dari luar negeri, baik yang dibawa oleh warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI).

Hal itu, ditambah tingginya mobilitas masyarakat saat mudik - meski pemerintah sudah resmi melarangnya - dapat menyebabkan lonjakan kasus setelah lebaran seperti yang terjadi tahun lalu.

"Setiap mobilitasnya masif akan diikuti dengan kenaikan kasus yang cukup tinggi," kata Pandu.

Kelemahan dalam pengawasan di bandara terekspos oleh dua insiden yang terjadi baru-baru ini. Polisi mengungkap kasus penggunaan alat bekas pakai untuk tes usap (swab) antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.

Persyaratan perjalanan dengan pesawat terbang diperketat menjelang libur Lebaran.
Foto: ANTARA

Sementara itu di Bandara Soekarno-Hatta, empat orang ditangkap karena diduga membantu delapan orang yang baru tiba dari India menghindari karantina.

Juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan bahwa menyusul dua insiden tersebut, pihak berwenang akan melakukan evaluasi terhadap proses pengawasan di bandara.

Proses yang dievaluasi termasuk pemberian kartu pas bandara yang diduga dimanfaatkan oleh pelaku di Bandara Soekarno-Hatta.

"Kami akan membantu agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi," kata Adita.

Mengantisipasi lonjakan penumpang di masa mudik lebaran, Adita mengatakan Kemenhub akan "meningkatkan koordinasi antar instansi yang melakukan pengawasan di prasarana transportasi dan melakukan sosialisasi intensif kepada operator transportasi."

Protokol kesehatan selama penerbangan

Insiden yang mengungkap kelemahan dalam pengawasan, seperti yang terjadi di Bandara Kualanamu dan Bandara Soekarno-Hatta, menimbulkan kekhawatiran sebagian masyarakat akan keamanan bepergian dengan pesawat di masa pandemi.

Ferry Rusli, yang rajin bepergian untuk urusan pekerjaan sejak Agustus tahun lalu, mengatakan beberapa maskapai penerbangan ekonomi atau low-cost carrier agaknya belum optimal menerapkan protokol kesehatan dalam pengaturan tempat duduk.

Situasi di dalam pesawat Batik Air ketika Ferry bepergian, Oktober lalu. Juru bicara Lion Air, induk perusahaan Batik Air, mengatakan operasional penerbangan sudah sesuai pedoman protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19. FERRY RUSLI

Menurut Ferry, maskapai premium seperti Garuda Indonesia biasanya mengosongkan kursi tengah di setiap barisan. Tetapi ketika dia pergi ke Sumba menumpang Batik Air Oktober lalu, dia kaget mendapati pesawatnya penuh. "Full banget dan super rapat [tempat duduknya]," ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Maskapai sekelas Garuda pun, kata Ferry, masih memberikan makanan selama penerbangan, yang membuat beberapa penumpang mencopot masker di atas pesawat untuk makan.

"Baru belakangan ada imbauan sebaiknya makannya nanti saja," ujarnya.

Hal itu membuat protokol kesehatan terasa seperti formalitas belaka, kata Ferry.

"Oke ini prokes dijalanin jadi aturan aja, tapi dalam fungsinya ada yang miss."

Danang Mandala Prihantoro, corporate communications strategic PT Lion Air, yang merupakan induk maskapai Batik Air, mengatakan bahwa surat edaran Kementerian Perhubungan no. 3 tahun 2021 tidak mengharuskan ada batasan kapasitas maksimal penumpang di dalam pesawat, namun operator penerbangan wajib menyediakan tiga baris kursi yang akan dipergunakan sebagai area karantina bagi penumpang yang terindikasi bergejala Covid-19 selama penerbangan.

"Pelaksanaan operasional penerbangan telah dijalankan sesuai aspek-aspek yang memenuhi unsur keselamatan dan keamanan, serta sesuai dengan pedoman protokol kesehatan di tengah masa pandemi," kata Danang melalui pesan teks kepada BBC News Indonesia.

Insiden penggunaan alat bekas pakai untuk tes usap (swab) antigen di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara mengekspos kelemahan dalam pengawasan di bandara.
Foto: ANTARA

Adita Irawati menjelaskan bahwa Kemenhub tidak lagi mengharuskan kapasitas pesawat maksimum 70% karena syarat untuk penumpang pesawat sudah sangat ketat. Misalnya, hasil tes baik PCR maupun antigen kini hanya berlaku 1 x 24 jam dibandingkan sebelumnya 3 x 24 jam.

Selain itu, kata Adita, sirkulasi udara di pesawat juga sudah baik karena menggunakan filter HEPA seperti yang ada di ruangan ICU.

"Tentunya protokolnya memang harus diketatkan. Protokol yang kami ketatkan itu antara lain masker tidak boleh dilepas selama di dalam pesawat, tidak ada makanan untuk penumpang di penerbangan di bawah dua jam, dan juga tidak dibolehkan bercakap-cakap," ujarnya.

Adita mengatakan, pihaknya juga terus memperingatkan kepada maskapai agar awak kabinnya lebih tegas mengatur penumpang saat hendak naik dan turun supaya tidak terbentuk kerumunan.

"Kami terus meminta maskapai melakukan perbaikan dalam pengawasannya," ujarnya.

Adanya kebijakan pemerintah yang melarang mudik hari raya Lebaran 1442 H dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19 pada 6 Mei mendatang membuat sebagian warga memilih mudik lebih awal karena khawatir akan ada peraturan lebih ketat.
Foto: ANTARA

Khawatir seperti India

Memasuki masa mudik Lebaran, pengawasan protokol kesehatan di moda transportasi menjadi krusial demi mencegah lonjakan kasus.

Usai Lebaran tahun lalu, meskipun pemerintah juga sudah melarang mudik, terjadi kenaikan jumlah kasus harian dan kumulatif mingguan sekitar 69 sampai 93 persen dalam 10 hingga 14 hari setelah libur Idul Fitri.

Tri Yunis Miko Wahyono, epidemiolog dari UI, memperkirakan pergerakan masyarakat akan tetap tinggi selama libur Lebaran. Menurutnya, bukan tidak mungkin akan terjadi lonjakan seperti di India.

Miko, begitu dia biasa dipanggil, mengatakan pemerintah perlu mengantisipasinya dengan menggencarkan penelusuran kontak dan tes serta memperketat pembatasan sosial.

"Mudik ini mungkin tidak seperti India, tapi tetap terjadi peningkatan yang bisa lebih besar dari perkiraan karena kasus yang tidak di-contact tracing atau OTG (orang tanpa gejala) itu akan memperbesar penularannya," ujar Miko.

Sumber: bbcindonesia.com