JAKARTA, HETANEWS.com – Hari ini 30 April 2021 Partai Demokrat menjadi tranding topik di twitter, hal itu terjadi ketika sejumlah kader elit Demokrat mempertanyakan kasus yang di alami oleh mantan petinggi FPI dan juga soal pelabelan KKB sebagai teroris

Politisi partai Demokrat, Taufiqurahman, menyebutkan semakin hari semakin banyak oposisi yang di pidana mulai dari Habib Rizieq dan terbaru Munarman. Dia pun mempertanyakan sampai kapan rezim mempidanakan oposisi.

“Kurang apalagi sih menghajar oposisi?, mau sampai kapan terus-terusan menjadi zalim?,” kata Taufiqurahman dikutip Makassar.terkini.id.

Pernyataan yang disampaikan oleh Taufiqurahman ditanggapi oleh mantan kader Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, disebutkannya bahwa pemahaman yang disampaikan Taufiqurahman yang membuat dirinya keluar dari Partai Demokrat.

“Pemahaman seperti inilah yang salah satunya jadi alasan saya melepas jangkar dan berlayar di Samudra luas yg bebas.Teroris itu pidana dan kejahatan, bukan oposisi apalagi pejuang. Mrk musuh negara dan musuh kemanusiaan mk hrs ditindak. Itu bkn zalim..!,” kata Ferdinand dikutip dari akun twitternya @Ferdinandhutahaean3.

Selain menyoroti soal kasus petinggi FPI, Demokrat juga menyoroti soal KKB di Papua, Demokrat mempertanyakan soal label yang dikeluarkan Pemerintah terhadap KKB yang disebut sebagai teroris.

Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief mengaku kecewa dengan Menkopolhukam Mahfud MD, dan menyebutnya sebagai sumbu pendek.

Saya kecewa dengan Prof @mohmahfudmd soal label teroris di Papua. Saya tidak mengira memilih jalan ini, ternyata dugaan banyak oramg selama ini benar, masuk kategori kelompok sumbu pendek,” tulis Andi di akun twitter pribadinya.

Pernyataan yang disampaikan oleh elit politik Demokrat menimbulkan pertanyaan di sejumlah kalangan elit politik dalam negeri.

Salah satunya adalah Politisi PKPI Teddy Gusnaidi mempertanyakan kepada SBY dan AHY terkait dukungan Demokrat mereka kepada KKB

“Pak @SBYudhoyono dan Pak @AgusYudhoyono, jadi Partai Demokrat mendukung KKB Papua yg telah membunuh aparat & rakyat Indonesia ya? Kalau iya, ya gak apa2 namanya jg pilihan. Yg penting jelas, jgn abu2, itu banci namanya. Kita bisa berhadap2an. Gue bela NKRI kalian bela KKB Papua,” katanya.

Politisi PSI Dedek Prayudi menyebut bahwa kini sedang menampung suara-suara oposisi yang tidak bertuan

“Demokrat sedang menampung suara² oposisi yang kini sedang tak bertuan. Bukan soal HAM bukan soal aktivis Islam. Sesimpel soal suara² tersebut tidak dikapitalisir pihak manapun, dan Demokrat "naksir" sama suara² itu. Bicara demokrat jangan bicara nilai,” katanya.