SIANTAR, HETANEWS.com – Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) sudah melegalkan ganja sebagai obat terlarang dan berbahaya di dunia dan disetujui untuk keperluan medis.

Hasil keputusan tersebut membuka jalan bagi peneliti untuk melakukan penelitian manfaat ganja dan untuk antisipasi dari pengguna ganja.

The Commission on Narcotic Drugs (CND) atau Komisi Obat dan Narkotika PBB lewat halaman resminya menyebutkan telah membuka pintu untuk mengenali potensi pengobatan dan terapi dari obat-obatan dengan bahan ganja yang umum digunakan.

Badan Kesehatan dunia (WHO) menyebutkan mengklasifikasikan cannabidiol (CBD) sebagai senyawa tidak memabukkan yang memiliki peran penting dalam terapi kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Penggunaan ganja dan produk turunannya seperti cannabidiol (CBD) dan senyawa non-intozxicating untuk medis telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum dilegalkan oleh Komisi Obat dan Narkoba PBB, Fidelis Arie Sudewarto sudah mencoba memanfaatkan ganja untuk pengobatan, dimana Fidelis memberikan ekstrak ganja kepada istrinya yang menderita penyakit Syringomyelia atau penyakit sumsum tulang belakang.

Ganja tersebut terbukti manjur dimana setelah mengkonsumsi ekstrak ganja, istrinya berangsur membaik, ketika Fidelis ditangkap dan istrinya tidak lagi bisa mengkonsumsi ekstrak ganja, 32 hari kemudian istrinya meninggal dunia.

Meskipun sudah mendapat dukungan dari CND PBB, Indonesia tetap berpegang penuh untuk tidak melegalkan ganja meskipun tujuannya adalah medis.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menegaskan Indonesia merupakan negara berdaulat dan akan tetap menggunakan undang-undangnya sendiri dalam melarang penggunaan ganja secara penuh.

Deputi Hukum dan Kerjasama BNN Puji Sarwono menyebut larangan penggunaan ganja merupakan keputusan dari pemikiran yang panjang. Pada 2015 lalu pun Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Hari Keluarga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki anugerah demografis yang perlu dijaga.

"Berdasarkan demografi, Indonesia ini diprediksi bahwa penduduk kita sekitar 297 juta kira-kira usia produktifnya 70 persen, artinya 200 juta lebih. Kekhawatirannya apakah demografi ini akan menjadi bencana atau anugerah bagi kita. Akan menjadi bencana kalau generasi muda tidak disiapkan dengan baik, akan menjdi bencana kalau usia produktif itu tidak berkualitas," ucapnya dikutik Medeka.com.

Dilanjutkannya, tanaman ganja di Indonesia sendiri berbeda kandungannya dengan yang tumbuh di mancanegara. Kandungan Cannabidiol (CBD) di dalamnya lebih rendah dibandingkan Tetrahydrocannabibol (THC) dan tentunya menyulitkan dalam peruntukan medis.