AS, HETANEWS.com - Amerika Serikat kembali mengizinkan penggunaan vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson setelah penghentian sementara akibat kasus penggumpalan darah berujung kematian beberapa waktu lalu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengambil keputusan ini pada Jumat (23/4), setelah sejumlah ahli merekomendasikan penggunaan kembali vaksin Johnson & Johnson.

"Kami menyimpulkan bahwa manfaat vaksin Johnson & Johnson lebih besar dari risikonya," ujar Kepala Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS, Janet Woodcock, dalam pernyataan bersama dengan CDC.

Meski demikian, CDC menyatakan bahwa Johnson & Johnson harus memasukkan pemberitahuan bahwa vaksin tersebut berisiko penggumpalan darah setelah penyuntikan.

"Komite keamanan menyimpulkan bahwa peringatan tentang pembekuan darah yang tidak biasa dengan trombosit darah rendah harus ditambahkan ke informasi produk untuk suntikan J&J," demikian pernyataan CDC.

Sejumlah warga AS memang sempat mengalami penggumpalan darah setelah menerima vaksin Johnson & Johnson.

Dari 3,9 juta perempuan penerima vaksin Johnson & Johnson, 15 di antaranya mengalami penggumpalan darah serius. Dari 15 orang itu, tiga di antaranya meninggal dunia.

"Mayoritas kasus yang dikonfirmasi, 13 (yang meninggal) dari 15 berusia di bawah 50 tahun. Tidak ada kasus yang dilaporkan di antara pria," demikian bunyi laporan CDC.
Kepala CDC, Rochelle Walensky, pun menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan pemantauan ketat terhadap penggunaan vaksin ini.

"Peristiwa penggumpalan yang sangat langka telah diidentifikasi, memperkuat alasan regulator untuk terus memantau peluncuran vaksin," kata dia.

sumber: cnnindonesia.com