SIANTAR, HETANEWS.com - Pesatnya perkembangan Islam berperan dalam menentukan pilihan RMG dalam proses kristenisasi di Simalungun. Kemajuan itu semakin meluas di antara orang Simalungun yang melihat Islam dengan sangat positif.

Berdasarkan arsip kolonial Belanda tahun 1911 yang dikutip Aqib Suminto, kristenisasi daerah Simalungun ternyata telah diminta oleh pemerintah Kolonial Belanda kepada lembaga zending RMG.

Permintaan menginjili orang Simalungun itu datang dari laporan-laporan pejabat Kolonial Belanda yang sudah pernah berkunjung atau bertugas di Simalungun. Salah satunya, C.J. Westenberg (pejabat kolonial Belanda yang mengurusi masalah orang Batak yang berkedudukan di Damak Jambu, Serdang). Westenberg melihat, banyak kepala-kepala daerah di Batak Timur (Simalungun) yang sudah memeluk Islam atau sedang berjalan ke arah itu, seperti telah ditunjukkan Raja Siantar, Raja Sang Naualuh Damanik.

Selain Westenberg yang sudah disebutkan di atas, pejabat Kolonial Belanda yang lain L.E. van Dijk, juga berpikiran sama dan menyarankan RMG agar mengkristenkan orang Simalungun sebelum akhirnya masuk Islam. Dia 60 | Dona Ponja, Yusra Dewi Siregar, Anang Anas Azhar sebelumnya menjabat sebagai controleur Toba dan sudah sering berkunjung ke Simalungun. Melalui van Dijk, Nommensen mendapat informasi seputar masyarakat Simalungun yang berada di balik pegunungan Bukit Barisan itu. Laporan van Dijk mengenai Kerajaan Siantar, Tanjung Kasau, dan Tanah Jawa, telah terbit pada tahun 1894 dan mendorong RMG untuk segera menjalankan misi ke Simalungun (Agustono, 2012).

Kemudian saat Peralihan Sang Naualuh dari penganut agama suku (parhabonaron) ke Islam, sangat disesalkan oleh Belanda yang khawatir atas perkembangan Islam waktu itu. Masuknya Islam Raja Siantar ini, membuat controleur meminta Sang Naualuh agar murtad dan masuk Kristen, tetapi ditolak Sang Naualuh yang kukuh dengan agamanya. Pada saat kunjungan Nommensen ke Siantar pada Maret 1903, ia meminta izin raja agar Zending RMG bekerja di Siantar. Namun permintaan ini ditolak oleh Sang Naualuh, penolakan dan sikapnya yang tidak bersahabat dinilai pihak Kolonial Belanda sebagai tindakan penghinaan kepada orang Eropa, golongan masyarakat kelas atas pada masa itu.

Belanda melihat peralihan dan sepak terjang Sang Naualuh dalam dakwah Islam ini dapat mengganggu rencana kolonialismenya di Siantar (Dasuha & Damanik, 2011). SIMPULAN Islam masuk ke Kerajaan Siantar lewat wilayah pesisir, yang dibawa oleh para pedagang bersamaan dengan interaksi dengan masrayakat pedalaman.

Kehadiran Islam di wilayah ini, disambut dengan cukup baik, terutama oleh raja dan seluruh penduduknya. Apalagi, pasca Sang Raja beralih memeluk Islam, penyebarannya semakin luas dan berkembang. Raja Sang Naualuh Damanik kemudian mengundang banyak guru-guru agama Islam untuk datang ke wilahnya. Bahkan, ia beserta seluruh pembesar istana lainnya, menjadi pionir terdepan dalam mendakwahkan Islam.

Dalam proses penyebarannya, Islam mengalami beberapa hambatan dan kendala. Masih banyaknya masyarakat Kerajaan Siantar yang memeluk agama nenek moyangnya (Habonaron Do Bona), membuat Islam menghadapi hambatan yang cukup berarti. Selain itu, kehadiran orang-orang Belanda dan diutusnya para misionaris Kristen ke wilayah ini, menjadi tantangan tambahan dalam proses penyebaran Islam.

Ditangkapnya Raja Sang Naualuh Damanik pada tahun 1905 dan dibuang ke Bengkalis, Riau pada tahun berikutnya, mengakibatkan penyebaran Islam di wilayah ini berlangsung tanpa sosok kharismatik itu.

Sampai hari ini penyebaran Agama Islam di Kota Pematangsiantar semakin pesat dan semakin banyaknya rumah-rumah Ibadah seperti Masjid dan Mushollah semakin berkembang.