JAKARTA, HETANEWS.com - Nama selebritis Raffi Ahmad menjadi perbincangan publik soal kans masuk ke dunia politik. Terlebih bos Rans Entertainment itu baru saja mengakuisi klub sepakbola Indonesia dan dekat dengan Presiden Jokowi.

Menanggapi fenomena perpolitikan artis, pengamat politik Al Azhar Indonesia Andriadi Achmad menilai, saat ini memang modal sosial saja tidak cukup dalam politik apalagi menaikkan elektabilitas atau keterpilihan individu atau parpol. Akan tetapi di perlukan modal finansial dan popularitas.

"Nah, popularitas yang dimiliki tokoh masyarakat atau artis (selebritas) menjadi magnet tersendiri bagi parpol dalam meningkatkan elektabilitas parpol," ujar Andriadi, Senin, 19 April.

Sehingga, lanjutnya, tokoh masyarakat dan selebritis menjadi incaran parpol untuk direkrut menjadi kader. Rafii Ahmad pasti menjadi rebutan parpol lantaran memenuhi kriteria tersebut.

"Jelas sosok Raffi Ahmad menjadi rebutan atau incaran parpol agar bisa menjadi kader, tentunya dengan popularitas, ditambah finansial memadai bisa menjadi andalan parpol kedepan dalam meningkatkan elektabilitas atau suara pada pemilu yang akan datang," jelas Direktur Eksekutif Nusantara Institute PolCom SRC (Political Communication Studies and Research Centre) itu. 

Menurutnya, Raffi Ahmad sama dengan vote getter parpol. Terlebih, sudah banyak contoh masyarakat atau selebritas sebelumnya tidak berpolitik ketika masuk politik menjadi rebutan parpol sebagai magnet penarik suara.

"Misalnya Eko Patrio, Primus, Desi Ratnasari di PAN, Dede Yusuf di Partai Demokrat, Rachel Maryam di Gerindra, Tommi Kurniawan di PKB, dan lain-lain," jelas Andriadi.

Meski demikian, untuk menjadi menteri peluang Raffi Ahmad masih jauh. Ia belum mumpuni untuk mengisi pos pemerintahan 

"Kalau menjadi menteri sih, walaupun bisa saja, menurut saya jangan. Sosok menteri sebaiknya di isi oleh profesional di bidangnya. Sekedar vote getter parpol tidak jadi persoalan Raffi ditarik untuk menjadi kader parpol," kata Andriadi.

Sumber: voi.id