HETANEWS.com - Puluhan jurnalis media cetak, online dan televisi kembali berunjuk rasa di depan kantor wali Kota Medan, Senin (19/4). Mereka menuntut Wali Kota Medan Bobby Nasution meminta maaf, lantaran pengawalnya mengusir 2 jurnalis saat hendak doorstop di kantor wali kota, pada Rabu (14/4).

Ini merupakan aksi ketiga para jurnalis di depan Balai Kota Medan, sebelumnya mereka juga melakukan aksi pada Kamis (15/4) dan Jumat (16/4). Namun bedanya pada aksi kali ini, tidak dilakukan orasi.

Para jurnalis hanya melakukan aksi tutup mulut menggunakan lakban, sambil membawa spanduk. Aksi tutup mulut disimbolkan, sebagai matinya kebebasan pers di Kota Medan. Sesuai dengan berbagai jenis poster yang mereka bawa.

Baca juga: Bobby Buka Suara soal Wartawan Dihalau Paspampres-Polisi

Puluhan jurnalis media cetak, online dan televisi berunjuk rasa terhadap Wali Kota Medan, Bobby Nasution di depan kantor wali Kota Medan, Senin (19/4).
Foto: Rahmat Utomo/Kumparan

Baca juga: AJI dan PFI Medan Kecam Pengusiran Jurnalis oleh Petugas saat Menunggu Bobby

Narasinya berisi Medan Darurat Pers, Stop Perintangan Terhadap Jurnalis, Halangi Jurnalis Sama Dengan Khianatnya Demokrasi, Wali Kota Medan Jangan Malu Minta Maaf, serta Intimidasi Jurnalis sama dengan Langgar UU Pers.

Namun meskipun aksi berlangsung damai dan tertib dari pihak Pemko Medan baik itu Bobby Nasution dan Aulia Rachman tetap tidak mau menjumpai pengunjuk rasa.

Sementara itu Koordinator aksi, Daniel Pekuwali mengatakan, unjuk rasa dilakukan sebagai aksi protes lanjutan terkait dua pengusiran saat doorstop.

Baca juga: Berunjuk Rasa di Balai Kota, Jurnalis Kota Medan Minta Bobby Nasution Minta Maaf

Puluhan jurnalis media cetak, online dan televisi berunjuk rasa terhadap Wali Kota Medan, Bobby Nasution di depan kantor wali Kota Medan, Senin (19/4).
Foto: Rahmat Utomo/Kumparan

Baca juga: Viral Jurnalis Diusir Petugas saat Menunggu Bobby, 'Wali Kota Rasa Presiden'

"Ini sebagai bentuk pesan bahwa Kota Medan saat ini kebebasan pers telah tercoreng," kata Daniel.

Dia juga menegaskan para jurnalis juga menginginkan Bobby meminta maaf atas arogansi tim pengamanannya, yang notabenenya merupakan bawahannya.

"Kami meminta Bobby untuk meminta maaf kepada jurnalis atas tindakan bawahannya atau pasukan pengamanannya. Kemudian, sistem pengamanan yang ada di Pemerintah Kota (Pemkot) Medan juga diminta untuk dievaluasi.Kami khawatirkan bisa mengganggu kerja-kerja jurnalistik," ujar Daniel.

Baca juga: Jurnalis Medan Tolak Arogansi Tim Pengamanan Wali Kota Medan

Terkait persoalan ini sebelumnya Bobby Nasution telah bertemu dengan sejumlah jurnalis. Namun faktanya sekelompok yang bertemu dengan Bobby itu bukan bagian dari jurnalis yang turun aksi di depan kantor Wali Kota Medan. Bahkan dua jurnalis yang diusir juga tidak ada.

Sebelumnya persoalan ini bermula pada video viral jurnalis wanita media online bernama Hani disuruh pergi oleh polisi, saat hendak menunggu Bobby untuk doorstop.

Kendati telah menjelaskan maksudnya, petugas tersebut tetap mengusir wartawan wanita tersebut. Mereka mengaku disuruh Paspampres. Hani saat diwawancarai membenarkan kejadian itu. Bahkan dirinya dan teman diusir saat hendak mendekati Bobby Nasution.

"Jangan di sini nggak boleh. Di situ ada Satpol PP, polisi dan Paspampres datang kami cekcok," ujarnya.

Baca juga: Terlalu Over Protektif, Satpol PP, Polisi Hingga Paspampres di Balai Kota Medan Usir Wartawan

Sumber: kumparan.com