HETANEWS.com - Terdakwa Suwendi yang nekat cekik leher bos tempat ia bekerja hingga meninggal dunia, kini dituntut 7 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (19/4/2021).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Priono Naibaho menilai, perbuatan lelaki 27 tahun itu terbukti bersalah melakukan pencurian dengan kekerasan sebagaimana diatur dan diancam Pasal 365 ayat (2) ke-3 KUHPidana.

"Meminta supaya majelis hakim menjatuhkan terdakwa Suwendi dengan pidana penjara selama 7 tahun, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahan," tuntut Jaksa.

Usai mendengar tuntutan, majelis hakim yang diketuai Denny Lumban Tobing pun menunda sidang pekan depan dengan agenda pledoi dari Penasehat Hukum (PH) terdakwa.

Sebelumnya dalam dakwaan Jaksa Chandra menuturkan, perkara itu bermula pada Kamis 17 Desember 2020 sekira pukul 17.00 WIB, saat terdakwa Suwendi sudah selesai bekerja di Toko Besi milik saksi korban Po Khin Shin (sudah meninggal dunia) di Jalan Gatot Subroto Kecamatan Medan Helvetia.

Setelah selesai bekerja, terdakwa tidak langsung pulang ke rumah, namun kembali masuk ke dalam toko menuju ke atas rak besi dan bersembunyi sampai menunggu semua pekerja pulang.

Selanjutnya, sekira pukul 17.45 WIB, setelah seluruh pekerja sudah pulang,  terdakwa turun dari rak besi dan masuk masuk ke dalam rumah saksi korban, untuk mencari uang.

Selanjutnya, pada saat terdakwa hendak masuk ke dalam rumah saksi korban, tiba-tiba suara mobil saksi korban terdengar dan pada saat itu saksi korban Po Khin Shin bersama saksi korban Po Kie Siung masuk ke dalam rumah.

"Mengetahui hal itu, terdakwa bersembunyi di lemari es bagian belakang. Kemudian terdakwa melihat saksi korban Po Khin Shin dan saksi korban Po Kie Siung makan di dapur. Lalu setelah itu, saksi korban Po Khin Shin naik ke atas, sedangkan saksi korban Po Kie Siung tetap berada di dalam dapur," urai Jaksa.

Kemudian, melihat hal itu terdakwa pun langsung memukul leher bagian belakang Po Kie Siung, sehingga saksi korban terjatuh lalu terdakwa mencekik leher Po Kie Siung sehingga saksi korban pun menjadi lemas.

Tidak hanya itu, terdakwa kemudian menyeret Po Kie Siung, ke dalam kamar mandi dan terdakwa kembali mencekik lehernya, sampai Po Kie Siung menjadi lemas.

Lalu, terdakwa meletakkan Po Kie Siung di bak kamar mandi, kemudian terdakwa pergi menuju gudang untuk bersembunyi, namun saksi korban Po Khin Shin yang sedang mencari keberadaan saksi korban Po Kie Siung melihat ada bayangan di arah gudang, sehingga saksi korban Po Khin Shin pergi menuju gudang dan pada saat itu handphone saksi korban berbunyi.

"Terdakwa yang takut perbuatannya diketahui oleh saksi korban Po Khin Shin, lalu medekati saksi korban Po Khin Shin  dan langsung memukul saksi korban dari arah belakang sebanyak 1 kali yang menyebabkan saksi korban Po Khin Shin terjatuh, kemudian terdakwa memukul kembali saksi korban dengan kunci besi sehingga saksi korban pingsan," urai Jaksa.

Selanjutnya, kata Jaksa terdakwa pun menuju lantai dua rumah saksi korban, untuk mencari uang dan kunci rumah saksi korban Po Khin Shin, lalu terdakwa menemukan kunci di dekat sepeda saksi korban dan terdakwa melihat dompet disamping tivi, ada bungkusan plastik hitam berisi uang tunai.

Lalu terdakwa pun mengambil uang milik saksi korban yang seluruhnya berjumlah Rp 16 juta. Lalu terdakwa pulang ke rumahnya di Jalan Setia Luhur Nomor 41 Kelurahan Dwikora.

Kemudian, ia pun memberitahukan kepada istrinya Tiara Syahputri (dilakukan penuntutan secara terpisah),  bahwa ia telah mengambil uang milik saksi korban, lalu terdakwa menyerahkan uang itu kepada Tiara sebesar Rp 10 juta, untuk disimpan.

"Sedangkan sisanya disimpan oleh terdakwa, kemudian terdakwa memberikan uang milik saksi korban sebesar Rp  2 juta, kepada Tiara  yang dipergunakan untuk membeli gelang emas, cincin belah rotan polos 22 karat," kaya JPU.

Sedangkan terdakwa, mengunakan uang hasil curian itu untuk membeli 1 unit sepeda motor Yamaha Mio, handphone merk Xiaomi, tas sandang dan sandal merk Eiger warna hitam, serta sejumlah barang lainnya.

Selanjutnya ucap JPU, pada hari Sabtu tanggal 19 Desember 2020 sekira pukul 18.30 WIB, ketika terdakwa dan Tiara berada di SPBU Jalan Tengku Amir Hamzah Medan, keduanya ditangkap oleh petugas kepolisian.

Pada saat dilakukan penangkapan, dari Tiara Syahputri disita uang sebesar Rp. 2.500.000, yang diakui oleh terdakwa adalah uang milik saksi korban.

Selanjutnya terdakwa dan Tiara Syahputri mengakui bahwa uang milik saksi korban, yang diambil terdakwa tersebut telah terdakwa pergunakan untuk membeli barang dan kebutuhan pribadi terdakwa dan Tiara Syahputri.

Selanjutnya terdakwa dan Tiara Syahputri beserta barang bukti dibawa ke Polrestabes Medan guna pengusutan lebih lanjut. Bahwa akibat perbuatan terdakwa dan Suwendi maka saksi korban mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp 16 juta.

Sumber: tribunnews.com