BRUSSELS, HETANEWS.com -  Uni Eropa dan Amerika Serikat bersama-sama meminta anggota parlemen di Georgia untuk menandatangani perjanjian kompromi yang akan diusulkan Minggu untuk menyelesaikan krisis politik yang berkepanjangan di negara - negara Kaukasia seperti dikutip hetanews dari sumber AFP pada Senin (19/4/2021).

"Uni Eropa dan Amerika Serikat meminta semua anggota parlemen Georgia untuk menandatangani perjanjian yang akan diusulkan oleh Presiden Dewan Eropa (Charles) Michel hari ini," demikian pernyataan bersama oleh juru bicara kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell dan Departemen Luar Negeri AS.

Front persatuan UE-AS tentang masalah ini menggarisbawahi meningkatnya kedekatan hubungan antara Brussel dan Washington di wilayah-wilayah yang melewati perbatasan selatan dan barat Rusia.

Seperti diketahui, Georgia, sebuah negara bekas Soviet yang terletak di sebelah timur Eropa, telah berada dalam cengkeraman krisis sejak pemilihan parlemen pada bulan Oktober, yang menurut pihak oposisi dicurangi untuk menjaga agar partai Georgian Dream yang berkuasa tetap berkuasa.

Partai-partai oposisi saat ini menuntut pemilihan cepat dan menolak untuk masuk ke parlemen yang baru terpilih.

Krisis semakin dalam pada Februari dengan penangkapan dan persidangan pemimpin kelompok oposisi utama, Nika Melia, atas tuduhan mengobarkan kekerasan selama protes anti-pemerintah 2019.

Nika Melia, ditahan karna tuduhan penghasutan

Perdana menteri Georgia mengundurkan diri dan ribuan pendukung oposisi berunjuk rasa di ibu kota Tbilisi pada Februari untuk memprotes penangkapan Melia.

Ketua Uni Eropa, Michel, telah mengambil peran mediasi antara pemerintah Georgia dan oposisi untuk mencoba mengendalikan ketegangan dan mencegah kemunduran komitmen demokrasi oleh negara.

SUMBER: AFP