SIANTAR, HETANEWS.com - Masuk dan berkembangnya agama Islam di kerajaan Siantar dikisahkan oleh Agustono dalam bukunya sejarah etnis Simalungun. Dalam bukunya disebutkan bahwa proses islamisasi di kerajaan Siantar terjadi di hampir seluruh wilayahnya, baik di daerah Siantar maupun Tanah Jawa.

Dalam proses penyebarannya, kendala dinamika penyebaran agama Islam di kerajaan Siantar, 1904-1913 hal utama yang dihadapi para pendakwah ialah, masih banyak masyarakat Siantar yang mempertahankan agama nenek moyangnya.

Seorang pedagang bernama Datuk Syahilan Saragih asal Simalungun, sering melakukan aktivitas perdagangan ke pesisir Batubara sampai ke Tanjungbalai dan bertemu dengan orang-orang Melayu yang berada di pesisir. kemudian, ia bertemu dengan para mubaligh yang juga seorang pedagang di wilayah tersebut dan mereka menjalin hubungan kerjasama sehingga mubaligh tersebut mengajaknya untuk masuk Islam.

Ajakan ini pun direspon dengan baik oleh sang datuk, yang kemudian memilih untuk memeluk Islam. saat Datuk Syahilan bertemu dengan raja Siantar dari dinasti Damanik, yaitu raja Sangnaualuh Damanik, beliau menerima dengan baik kedatangan datuk Syahilan sehingga raja tertarik dan memeluk Islam.

Dari sinilah proses awal penyebaran Islam yang dilakukan oleh raja Sangnaualuh Damanik. para mubaligh dengan datuk Syahilan serta sang raja, menyebarkan Islam lalu mengembangkan ajaran Islam dengan cara berdagang sambil berdakwah. karena proses berdakwah inilah masyarakat biasa yang masih menganut kepercayaan lokal mengikuti jejak sang raja untuk memeluk agama Islam tanpa ada paksaan.

Islam adalah agama yang tidak membedakan status sosial, selain itu syarat masuk Islam juga mudah, sehingga banyak orang Simalungun khususnya masyarakat Kerajaan Siantar yang memeluknya.

Raja Sangnaualuh Damanik beserta keluarga besarnya memeluk Islam pada tahun 1901, hal tersebut bersamaan dengan mulai masuknya orang-orang Belanda ke wilayah kerajaan Siantar. Sang raja juga mengajak para pembesar kerajaan dan rakyatnya untuk ikut masuk Islam. Dalam upaya menyiarkan Islam kepada seluruh penduduknya, Sang Raja mendatangkan para mubaligh yang berasal dari wilayah pesisir (Melayu), Mandailing, Minangkabau, dan Arab untuk datang ke Kerajaan Siantar (Damanik & Dasuha, 2012, p. 61).

Setelah resmi memeluk Islam, Raja Sangnaulauh Damanik menjadi pionir terdepan dalam menyebarkan Islam di Kerajaan Siantar. Kedudukanya sebagai raja, ia manfaatkan agar menjadi contoh dan panutan bagi seluruh rakyatnya, sehingga mereka mau beralih ke agama Islam.

Karena berbagai tauladan, serta perjuangannya yang gigih dalam mendakwahkan Islam di Siantar, banyak rakyat Siantar yang menganggap Raja Sangnaualuh Damanik sebagai sosok pejuang Islam. Dalam istilah lokal orang Simalungun, penyebutan Melayu identik dengan Islam, oleh sebab itu, banyak masyarakat Simalungun yang sudah memeluk Islam, dipanggil dengan sebutan Melayu (Ginting & Anita, 2020, p. 29).

Dalam menyebarkan Islam, raja terus menggiatkan kegiatan beribadah seperti mengadakan pengajian pengajian. Khusus untuk kegiatan ini, Raja Sangnaualuh Damanik mendirikan Juma Bolag dan Rumah Bolon sebagai tempat pusat belajar tentang Islam. Hal ini dilakukan Sang Raja agar masyarakat Siantar tidak hanya sekadar memeluk Islam, tetapi juga bisa mempelajarinya.

Dalam mempelajari Islam di tempat tersebut, Sang raja juga mendatangkan guru-guru terbaik dari berbagai daerah, mereka adalah Tuan Guru Narudin, Ustad Manan, dan Lebai Udo (Damanik & Dasuha, 2012).

Kemudian, Raja Sangnaualuh juga mewakafkan sebidang tanahnya untuk membangun masjid seluas 3.977 m2 di daerah bernama Timbang Galung kepada penghulu Hamzah Daulay pada tahun 1910. Masjid ini dibangun pada tahun 1911 oleh masyarakat muslim yang dipelopori oleh Penghulu Hamzah, Tuan Syeh H. Abdul Jabbar Nasution, dan dr. M Hamzah Harahap.

Pada awal pembangunannya, bangunan masjid ini masih sangat sederhana, hanya terbuat dari tiang kayu, berdinding papan, dan atap yang terbuat dari daun nipah, dengan tidak adanya pintu dan jendela. Masjid ini dinamakan Masjid Raya yang merupakan peninggalan Islam di Pematang Siantar. Masjid ini digunakan sebagai tempat perkumpulan umat muslim di Siantar untuk melakukan kegiatan beribadah dan bermusyawarah.

Masjid Raya merupakan masjid pertama yang ada di wilayah Kerajaan Siantar, maka pada saat itu jama’ah yang datang untuk salat berasal dari kampung-kampung yang ada di wilayah tersebut, yaitu Kampung Melayu, Marihat, Tomuan, Kampung Banten, bahkan ada yang datang dari Panei Tongah. Berdirinya Masjid Raya ini disambut baik oleh masyarakat muslim di Kerajaan Siantar.

Pada tahun 1913 diselenggarakan salat untuk pertama kalinya di masjid ini. Sebutan Masjid Raya baru dipopulerkan pada tahun 1913 walaupun masih ada di antara jama’ah yang menyebutnya dengan nama Masjid Godang artinya Masjid Besar (dalam bahasa Mandailing-Tapanuli) dan ada juga yang menyebutkannya dengan sebutan Masjid Jami’ (Ginting & Anita, 2020, p. 29).

Dalam proses penyebaran agama Islam di Kerajaan Siantar ada hambatan-hambatan yang dihadapi, seperti upaya para misionaris Kristen di wilayah Siantar, hal tersebut tidak membuat masyarakat Siantar keluar dari agama Islam, karena Islam sudah kuat di jiwa masyarakat Siantar (Damanik & Dasuha, 2012, pp. 74-75).

Raja Sangnaualuh Damanik adalah seorang raja yang berjiwa patriot. Sebagai sosok raja yang adil dan bijaksana, ia sangat peduli akan kesusahan yang dialami rakyatnya. Ia menambahkan bahwa, Raja Sangnaualuh sangat cinta Dona Ponja, Yusra Dewi Siregar, Anang Anas Azhar dengan Islam dan beliau rela mati demi membela agamanya.

Beliau meninggal juga dalam keadaan Islam. Sesuai dengan namanya Sangnaualuh yang artinya “Naualuh” (yang delapan) dalam bahasa Simalungun sifatnya dalam kehidupan sehari-hari dikagumi oleh rakyatnya. Beliau merelakan dengan ikhlas semua kekuasaannya di Siantar, meninggalkan rakyat dan keluarganya direbut oleh Kolonial Belanda karena untuk mempertahankan agama Islam yang dianutnya. Sebagai penguasa yang sudah memeluk Islam, Raja Sang Naualuh Damanik banyak belajar tentang Islam dengan guru-guru yang didatangkan dari pesisir, terutama wilayah Batu Bara.

Baca juga: Sejarah Islam Di Siantar (part 1)