SIANTAR, HETANEWS.com - Parlindungan Sinambela didakwa sebagai pelaku penganiayaandisidangkan di Pengadilan Negeri Siantar, Kamis (15/4). Agenda persidangan siang itu, juga mendengarkan keterangan saksi korban Bintang Frida Pangaribuan dan saksi lainnya.

Menurut saksi korban Frida, dirinya masih merasa terancam karena terdakwa tidak ditahan dan belum melakukan perdamaian. Ironisnya, ada anggota keluarga terdakwa yang sempat mengancam dan juga mengejek dan menghina anak korban.

"Belum ada perdamaian, saya juga masih merasa takut karena salah satu anggota keluarganya masih ada yg mengancam saya dan anak saya juga menghina anak saya," kata saksi disidang siang itu.

Menurut ketua majelis hakim Fhytta Sipayung SH, memang tak pantas seorang laki laki memukul wanita, "Harusnya cari lawan yang seimbang ya," kata hakim.

Pengacara korban Fransiskus Silalahi sangat menyesalkan sikap Kepolisian, kejaksaan dan juga hakim karena tidak melakukan penahanan kepada terdakwa. Apalagi terdakwa merupakan residivis dalam kasus yang sama.

"Ada apa dengan polisi dan jaksa? mengapa pelaku tidak ditahan? Dia kan sudah residivis," kata Frans. 

Perilaku terdakwa sudah sangat meresahkan, apalagi belum ada meminta maaf dan melakukan perdamaian. "Hakim diharapkan membuat putusan yang seadil-adilnya," ucap Fransiskus menambahkan.

Pemukulan yang dilakukan terdakwa kepada korban terjadi pada, 24 Desember 2020 sekira pukul 22.15 Wib di Jl Bah Tongguran Kanan No 21 Kecamatan Siantar Utara Kota Siantar.  

Malam itu, saksi Bintang Frida Pangaribuan dengan mengendarai sepeda motor melintas di depan rumah terdakwa. Lalu, beberapa anak melemparkan petasan kearah sepeda motor yang dikendarai oleh saksi korban.

Korban pun menghentikan sepeda motornya di depan rumah terdakwa. Lalu terdakwa mendatangi saksi korban dan mengucapkan kata-kata kotor kepada saksi Bintang Frida Pangaribuan.

Saksi korban Bintang Frida Pangaribuan mengatakan kepada terdakwa “Aneh kau”, kemudian terdakwa menghampiri saksi korban dan mengatakan “Melawan kau,” seray memukul korban dengan batu.

Akibatnya hidung sebelah kiri mengeluarkan darah. Dan korban berteriak minta tolong, sehingga banyak warga yang berkumpul.  

Sesuai Visum Et Repertum No:15154/VI/UPM/VER/XII/2020 tanggal 25 Desember 2020 yang dibuat dan ditanda tangani oleh Dr. Cut Putri Leza Silvia yaitu dokter pemerintah pada Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Djasamen Saragih.

Hasil pemeriksaan luka lecet warna merah pada bawah hidung sebelah kiri, ukuran panjang 0,2 cm.

Jaksa Firdaus Maha SH menjerat terdakwa melanggar pasal 351 (1) KUHP. Terdakwa dipidana pada tahun 2018 selama 7 bulan dan saat itu dituntut jaksa selama 1 tahun.