SIANTAR, HETANEWS.com – Islam masuk ke Kerajaan Siantar lewat wilayah pesisir, yang dibawa oleh para pedagang bersamaan dengan interaksi dengan masrayakat pedalaman. Kehadiran Islam di wilayah ini, disambut dengan cukup baik, terutama oleh raja dan seluruh penduduknya.

Dikutip dari artikel Dona Ponja, Yusra Dewi Siregar, Anang Anas Azhar masuknya Islam ke Indonesia, memiliki pendapat atau teori yang berbeda-beda. Menurut pandangan beberapa ahli, ada yang mengatakan bahwa Islam datang dari tempat lahirnya (Arab), dan ada juga yang mengatakan bahwa Islam masuk dari Cina, India (Gujarat), atau Persia (Tjandrasasmita, 1984).

Dari sumber-sumber sejarah ditemukan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, yang dibawa langsung oleh para pedagang Arab. Pada akhir abad ke-13, seorang penjelajah asal Italia bernama Marco Polo melakukan perjalanan ke Tiongkok.

Dalam perjalananya tersebut, ia mengunjungi beberapa daerah di Sumatera, salah satunya Kerajaan Perlak. Menurut catatannya, di kerajaan ini penduduknya rata-rata sudah memeluk Islam. Hal ini membuktikan bahwa, daerah pesisir menjadi wilayah yang pertama kali mendapat pengaruh Islam (Tjandrasasmita, 1984, p. 125).

Islam mulai berkembang di wilayah pesisir timur Sumatera sekitar abad ke-13 M. Wilayah yang saat ini dikenal dengan nama “Kota Cina”, diperkirakan dahulu adalah sebuah bandar pelabuhan yang penting pada masanya.

Bandar ini termasuk wilayah dari Kerajaan Haru, yang sudah memeluk Islam. Menurut catatan pelancong asal Cina bernama Ma Huan, yang mengunjungi wilayah ini pada abad ke-15, menyebutkan bahwa Kerajaan Haru sudah dipimpin oleh seorang raja yang beragama Islam (Rambe, 2019, pp. 102-103).

Dari beberapa temuan sejarah, dapat diketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas, sehingga lokasinya sangat strategis untuk dijadikan sebagai pusat perdagangan. Di sepanjang pesisir timur Sumatera juga banyak ditemukan bandar-bandar perdagangan yang ramai.

Meningkatnya aktivitas perdagangan ini, juga berpengaruh terhadap interaksi dengan masyakarat yang berada di pedalaman. Salah satu wilayah yang terdampak aktivitas ini ialah Kerajaan Siantar (Simalungun). Islam mulai masuk ke wilayah ini dibawa oleh para pedagang Melayu yang datang dari wilayah pesisir, seperti: Batu Bara, Asahan, Padang, dan Serdang (Marihandono & Juwono, 2009, p. 144).

Menurut tutur lisan penduduk Simalungun, orang yang pertama kali memeluk Islam ialah bangsawan Kerajaan Siantar bernama Tuan Swam Damanik. Beralihnya ia memeluk Islam, kemudian diikuti oleh penduduk Kerajaan Siantar lainnya, dan kemudian disusul oleh masuk Islamnya Raja Siantar bernama Sang Naualuh Damanik.

Sebelumnya, mereka semua memeluk agama lokal Simalungun, yang lebih familiar dengan nama Habonaron Do Bona. Persitiwa masuknya raja, pembesar, dan rakyat Kerajaan Siantar ke agama Islam, terjadi sekitar tahun 1901. Hal ini kemudian menyebabkan Islam mendapat pengikut yang cukup besar, apalagi pasca sang raja memeluk Islam (Ginting & Anita, 2020). Penyebaran Islam di Kerajaan Siantar terjadi dalam beberapa faktor.

Pertama, Islam diperkenalkan oleh para pedagang dan para ulama dari pesisir timur kemudian diperkenalkan oleh Raja Sang Naualuh Damanik. Kemudian, Raja masuk Islam dan menyebarkan syiar Islam kepada rakyatnya yang masih menganut agama lokal.

Kedua, dilakukan dengan cara berdakwah sehingga menyebar ke wilayah Kerajaan Siantar. Dalam hal ini, raja menjalin hubungan baik dengan para guru agama Islam dari wilayah Tapanuli dan sekitarnya. Para juru dakwah dan guru agama yang didatangkan oleh raja, kemudian dijadikannya sebagai penasehat spiritual baginya, dan diperintahkan menjadi ujung tombak dalam menyebarkan Islam di Kerajaan Siantar.

Oleh sebab itu, pada tahun 1904 penduduk Kerajaan Siantar sebagian besar sudah menjadi pemeluk Islam, bahkan raja sudah membuat beberapa peraturan sesuai dengan syariat Islam. Perkembangan Islam di wilayah Kerajaan Siantar membawa perubahan sosial dan budaya yang cukup pesat. Penyesuaian antara aturan adat dan aturan agama terlibat nyata dalam kehidupan masyarakat Siantar, dan terkadang masih menemui hambatan dalam pelaksanaanya. Sehingga dalam proses penyebarannya terjadi konflik yang dilatarbelakangi oleh motif agama, politik dan ekonomi.

Konflik agama terjadi karena banyak masyarakat Siantar yang masih mempertahankan kepercayaan Habonaron Do Bona. Tantangan lainnya, karena adanya upaya Kristenisasi di mana pemerintah Kolonial Belanda mengirim para misionaris Kristen dari lembaga penginjil asal Jerman ke Kerajaan Siantar.

Konflik-konflik seperti itu sengaja diciptakan oleh pemerintah Kolonial Belanda karena ingin menguasai Kerajaan Siantar. Perkembangan Islam di Kerajaan Siantar antara tahun 1904-1913 mengalami perkembangan yang signifikan sehingga menyebabkan banyak penduduk Siantar yang memeluk agama Islam.

Islam melekat begitu kuat di dalam diri sang raja maupun para penduduk Siantar. Hal ini juga yang membuat pemerintah Kolonial Belanda gagal mengalihkan mereka menjadi Kristen. Walaupun akhirnya raja diturunkan dari tahtanya oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan benturan-benturan politis, islamisasi di Kerajaan Siantar ternyata telah berkembang kuat sampai pada akhirnya Raja Sang Naualuh Damanik wafat pada tahun 1913 (Agustono, 2012).