SIANTAR, HETANEWS.COM - Pencalonan Wakil Walikota Pematangsiantar menjadi sorotan elemen masyarakat di kota ini dan menimbulkan pro dan kontra. Hal ini tidak lepas dari munculnya rasa empati atas meninggalnya Asner Silalahi ST, yaitu calon Wali Kota terpilih Pematangsiantar yang berpasangan dengan dr Susanti Dewayani. Hal itu disampaikan salah satu bakal calon kepala daerah di masa Pilkada 2020 lalu, Rajamin Sirait

Menurut Rajamin Sirait, untuk melanjutkan perjuangan almarhum Asner Silalahi, tidak ada salahnya kesempatan diberikan kepada anak sulungnya yaitu Sondi Silalahi ST. 

"Pandangan kita, harusnya hormati saja almarhum Asner Silalahi. Sama misalnya ketika itu Hulman meninggal, kemudian masuk nama Togar Sitorus. Sebenarnya lebih gentleman itu," katanya kepada wartawan, Senin (5/4/2021) menanggapi ramenya calon wali kota.

Terkait adanya anggapan bahwa Sondi Silalahi tak mampu membantu wali kota dalam menjalankan roda pemerintahan, karena dinilai tidak memiliki pengalaman dan masih muda, menurut Rajamin, hal itu merupakan pandangan yang keliru. 

"Kan ada staf dan camat, yang penting itu adalah inovatif. Kan sudah ada sistem dan perangkat. Bukan hal susah menjalankan pemerintahan. Paling utama adalah mengontrol sudah sejauh mana capaian kerja.

Menurutnya, untuk kemajuan Kota Pematangsiantar yang dibutuhkan kemauan. Kemudian kemampuan tentang daerah secara lokal sangat membutuhkan kolaborasi dengan pengalaman seseorang dari daerah lain atau dari ilmu lainnya.

"Apa benar Sondi sama sekali tidak punya kemampuan untuk kebutuhan pembangunan sekarang ini? Saya rasa justru dia punya kemampuan, contohnya dalam digital. Mungkin dia punya ilmu untuk sistem pemerintahan berbasis online," ucapnya.

Melihat fenomena pencalonan wakil wali kota, bagi Rajamin Sirait, itu menunjukkan karaktek yang hanya ingin mendapat sesuatu dan bukan seorang petarung sejati. "Bagi saya, orang-orang yang mencalonkan diri untuk jadi wakil wali kota adalah bukan sosok petarung. Kenapa sekarang orang merebut jadi wakil? Karena bermimpi di tahun 2024, ia laku. Jadi ini kan mental-mental instan dan prakmatis. Bukan mental pemenang atau pertarung," terangnya.

"Kayak saya pribadi, kenapa pada kesempatan ini saya tidak mau jadi wakil? Saya tidak mau tanpa bertanding. Lebih bagus kita tak ikut. Makanya saya berharap, kasikan aja sama anaknya untuk menggantikan air mata," tutupnya.

Sementara salah seorang tokoh agama, Pdt Dion Panomban berharap agar petinggi partai mengedepankan hati nurani, jangan sampai hilang di balik kesempatan yang ada. "Politik itu sebenarnya bagus, yang bertujuan membuat tatanan suatu kota lebih baik. Tetapi politik harus didasari oleh moral yang benar. Kalau tidak didasari moral, kita kuatir kota ini bukan tambah baik tetapi tamba rusak," ujarnya.

Pada kesempatan ini, Pdt Dion berharap petinggi partai memberikan kesempatan buat Sondi Silalahi selaku anak sulung almarhun  Asner Silalahi. "Kasihlah kesempatan. Walau dia masih muda dan lainnya, toh ada dr Susanti selaku wali kota, lebih senior dan berpengalaman," ucapnya.

Melihat biografi Sondi Silalahi, bagi Pdt Dion, hal ini cukup membantu membawa pemerintahan lebih baik dan stranparan lewat digitalisasi. "Kita dapat informasi, Sondi Silalahi adalah orang yang paham mengenai digital dan saya rasa, ilmunya bisa disandingkan pemerintahan. Membawa transformasi, baik birograsi yang baik dan pelayanan kepada masyarakat secara online," tandasnya.

SUMBER: rilis